Featured
Beranda » Index Berita » Membumikan Kembali “Jiwa Bung Karno” di Tanah Kelahirannya

Membumikan Kembali “Jiwa Bung Karno” di Tanah Kelahirannya

Syaifuddin zuhri Ketua DPRD Kota Surabaya (Foto: *karikatur)

SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Angin hangat awal Juni berembus di antara gedung-gedung tinggi dan sudut-sudut kampung tua di Surabaya. Bagi kota ini, ‘Juni‘ bukan sekadar pergantian bulan di kalender. Juni adalah “Bulan Bung Karno” sebuah waktu di mana ingatan kolektif masyarakat ditarik kembali pada sosok sang Proklamator yang tangis pertamanya pecah di tanah Kota Pahlawan.

Tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, sebuah seruan reflektif menggema dari gedung parlemen kota. Ketua DPRD Kota Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menegaskan bahwa warisan terbesar Bung Karno tidak boleh sekadar menjadi pajangan di buku sejarah atau narasi formal upacara. Semangat itu harus turun ke jalan, menyusup ke gang-gang pemukiman, dan hidup dalam nadi warganya.

“Spirit dan nilai perjuangan yang beliau wariskan harus terus membumi di Kota Surabaya karena ini adalah kota kelahirannya,” ujar pria yang akrab disapa Kaji Ipuk tersebut.

Lebih dari Sekadar Peringatan Kalender

Sejarah mencatat, pada 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI, Soekarno muda memeras gagasannya, merajut keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi satu fondasi kokoh bernama Pancasila. Menariknya, bagi Surabaya, napas Pancasila itu berkelindan erat dengan karakter asli warganya yang egaliter dan pemberani.

Menjaga Warisan, Menyambut Masa Depan: Aura Baru “Graha Nusantara” Menjadi Jantung Kegiatan Siswa

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh berdekatan dengan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) dipandang sebagai momentum emas. Ini adalah saat yang tepat untuk merekatkan kembali sekat-sekat sosial yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan modernisasi. Kemajuan sebuah kota modern seperti Surabaya tidak boleh mengorbankan jiwa humanisnya.

Cangkrukan: Gotong Royong ala Arek Suroboyo

Bagaimana cara membumikan semangat Bung Karno di era digital ini? Jawabannya ternyata ada pada tradisi lokal yang sederhana, duduk bersama.

Karakter Arek Suroboyo dikenal blak-blakan, namun sarat akan rasa kekeluargaan. Ketika ada masalah, obatnya adalah dialog. Kaji Ipuk mengingatkan bahwa budaya cangkrukan (nongkrong santai sambil berdiskusi) adalah bentuk murni dari musyawarah mufakat yang terkandung dalam sila keempat Pancasila.

Dialog terbuka di balai RW atau warung kopi mencegah terjadinya gesekan sosial.

Keadilan Sosial PR Yang Belum Usai, Potret Dibalik Lahirnya Pancasila

Kampung Pancasila, salah satu langkah konkret yang didorong adalah optimalisasi Kampung Pancasila sebagai ruang hidup bertoleransi dan menjaga keamanan lingkungan secara swadaya.

Generasi muda ditantang untuk meneladani masa muda Bung Karno yang kritis, gemar membaca, namun tetap peduli pada nasib masyarakat kecil (kaum marhaen).

Menuju Kota Inklusif yang Berkarakter

Surabaya boleh terus tumbuh dengan mal-mal megah, transportasi publik yang modern, dan tata kota yang bersih. Namun, fondasi utama pembangunan Surabaya yang sesungguhnya berada pada manusianya.

Melalui momentum Bulan Bung Karno ini, warga Kota Pahlawan diajak untuk kembali menengok ke dalam diri, Apakah kita sudah cukup peduli dengan tetangga sebelah rumah? Apakah kita sudah menerapkan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari?

Mengais Rezeki Rp733, Cerita Ujung Peluit di Balik Digitalisasi HJKS 733

Membumikan semangat Bung Karno di Surabaya adalah tentang memastikan tidak ada warga yang merasa terasing di tanahnya sendiri. Menjaga kota, menjaga kampung, dan saling menghargai perbedaan adalah cara terbaik menghormati sang Proklamator di kota tempat ia dilahirkan. (Hasan N Rahmad)