Featured
Beranda » Berita » Dari Tanah Seberang Hingga Intelektual Menjadi Gubahan Puisi

Dari Tanah Seberang Hingga Intelektual Menjadi Gubahan Puisi

MADURA, (JURNALBERITA.ID) – Angin selat berembus kencang membawa aroma garam yang khas, tetapi di tanah seberang Jawa ini, ada aroma lain yang tak kalah pekat aroma pemikiran, keberanian, dan spiritualitas.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD sering kali dipandang sebagai puncak menara intelektualitas Madura. Rekam jejaknya yang langka menjelajahi pucuk kekuasaan eksekutif, legislatif, hingga yudikatif membuat banyak orang bertanya adakah intelektual pulau garam yang mampu menyamai sang profesor?

Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke relung sejarah dan khazanah pemikiran pulau ini, anggapan tersebut perlahan mencair. Madura bukanlah tanah yang gersang akan pemikir.

Di balik karakter masyarakatnya yang tegas dan lugas, pulau ini adalah rahim subur yang terus melahirkan raksasa-raksasa pemikir di berbagai bidang, jauh sebelum koridor hukum nasional mengenal nama Mahfud MD.

Dari Mimbar Dialog Hingga Gubahan Puisi. Tariklah ingatan kita pada sosok K.H. Bahaudin Mudhary. Pria kelahiran Sumenep ini adalah bukti sahih bahwa intelektualitas Madura tidak pernah tunggal.

Sulitnya Membuang Sampah Rumah Tangga Bulky Waste Mencuat Dalam Reses Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas Karno

Di masa hidupnya, ia tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga menyelami filsafat barat, psikologi, hingga astronomi. Karya monumentalnya, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, hingga kini menjadi salah satu naskah debat teologis paling cerdas dan dihormati di tanah air.

Kiai Bahaudin adalah representasi bagaimana nalar kritis dan kedalaman iman berpadu dalam jiwa seorang manusia Madura.

Bergeser sedikit ke dunia rasa dan kemanusiaan, siapa yang tak kenal D. Zawawi Imron? Dijuluki ‘Si Celurit Emas’, Zawawi tidak menggunakan senjatanya untuk melukai, melainkan untuk merobek ketidakadilan lewat bait-bait puisi.

Lewat sastranya, Zawawi membawa kearifan lokal Madura ke panggung dunia, membuktikan bahwa intelektualitas tidak selalu berbaju jubah hukum atau setelan jas parlemen. Ada kecerdasan kultural yang luar biasa dalam setiap tutur katanya yang teduh namun menghujam.

Penjaga Sejarah dan Pengawal Moderasi di ruang-ruang kuliah seluruh Indonesia, nama Prof. Dr. Badri Yatim, M.A., mungkin lebih sering dijumpai di sampul-sampul buku wajib mahasiswa sejarah. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Madura ini adalah arsitek yang menyusun kepingan-kepingan Sejarah Peradaban Islam bagi generasi muda Indonesia.

Dari Aspirasi Menuju Aksi Nyata, Budi Leksono Lakukan Agenda Reses di Kediaman Anugrah Ariyadi

Buku-bukunya menjadi rujukan utama, membuktikan bahwa kontribusi intelektual Madura tertanam kuat dalam fondasi akademik nasional. Sementara itu, di era digital dan geopolitik yang kian kompleks hari ini, kita melihat sosok Islah Bahrawi.

Sebagai Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah menjadi salah satu suara paling lantang dalam mengawal isu-isu radikalisme dan terorisme di level nasional. Dengan analisisnya yang tajam, ia meneruskan tradisi intelektual Madura yang tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran di tengah badai kontroversi.

Mengapa Mahfud MD Terlihat ‘Sendirian’?Mengapa publik sering merasa belum ada yang setara dengan Mahfud MD? Jawabannya terletak pada panggungnya.

Mahfud MD berdiri di panggung formal hukum tata negara dan kekuasaan politik sebuah panggung yang paling sering disorot lampu kamera media nasional. Karakter Maduranya yang blak-blakan, berani, dan tanpa kompromi saat membongkar skandal besar membuatnya menjadi figur yang sangat scalable di mata publik.

Namun, mengukur intelektualitas Madura hanya dari satu tolok ukur politik hukum tentu menjadi tidak adil bagi para begawan lainnya.

Reses Budi Leksono di Gubeng Jaya Langgar, Warga Sampaikan Keluhan PIP dan Data Kependudukan

Rahim yang Tak Pernah Kering, Madura tidak pernah kekurangan stok pemikir. Jika Mahfud MD adalah puncak di bidang hukum tata negara, maka Madura juga memiliki puncak-puncak lain di bidang sastra, sejarah, teologi, hingga keamanan nasional.

Mereka mungkin tidak selalu berada di bawah sorotan lampu studio televisi atau duduk di kursi menteri. Namun, di pondok-pondok pesantren yang sunyi, di ruang-ruang kelas universitas, dan di perpustakaan yang pengap, pemikiran-pemikiran manusia Madura terus bekerja, membentuk wajah Indonesia yang lebih cerdas dan beradab.

Maka, pertanyaan ‘apakah ada yang setara dengan Mahfud MD?’ mungkin perlu diubah. Karena di Madura, intelektualitas tidak lahir untuk saling menandingi, melainkan untuk saling melengkapi dalam merawat ibu pertiwi.

(Hasan N Rahmad/hnr71@gmail.com)