SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Deru mesin kereta api yang membelah Jalan Nias, Gubeng, kini tak lagi bersahutan dengan riuh rendah suara palu besi atau kepulan asap kompor pedagang kaki lima. Senin pagi, 29 Juni 2026, menjadi saksi bisu runtuhnya lapak-lapak kayu yang selama puluhan tahun menjadi gantungan hidup belasan keluarga.
Di balik aspal yang mendadak lapang dan bersih hari ini, ada air mata yang jatuh menatap puing-puing tempat mereka menjemput rezeki demi mengisi perut anak dan istri.
Bagi warga terdampak, Jalan Nias bukan sekadar deretan wilayah di peta kota. Jalan ini adalah saksi perjuangan berdarah-darah, tempat modal terakhir dipertaruhkan, dan ruang di mana uang sekolah anak-anak dikumpulkan keping demi keping. Namun, gerak modernisasi kota metropolitan tidak pernah bisa menunggu.
Ketika aturan ketertiban diketuk dan keluhan banjir akibat saluran yang tersumbat harus diselesaikan, mereka berada di posisi yang harus mengalah pada kepentingan publik yang lebih besar.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan pentingnya mendahulukan kepentingan umum daripada segelintir orang, saat memimpin penertiban di Jalan Nias.
Ia memohon maaf atas tindakan tersebut namun memastikan relokasi ke area Menur.
“Saya mohon maaf kalau harus melakukan tindakan ini. Tapi saya mohon warga Surabaya mendahulukan kepentingan umum daripada segelintir orang. Saya harap warga mau mengerti, demi kebaikan bersama dan kota kita tercinta,” ujar Eri Cahyadi dengan nada penuh ketegasan sekaligus empati
Pemerintah Kota Surabaya memang tidak melepas mereka begitu saja, sebuah tempat relokasi di Jalan Menur telah disiapkan. Namun, bagi seorang pedagang kecil, berpindah tempat berarti memulai segala sesuatunya dari nol lagi.
Ada ketakutan yang mendalam di dada mereka, Apakah pelanggan lama akan datang? Apakah asap dapur di rumah akan tetap mengepul esok hari? Di tengah ketidakpastian itu, mereka dipaksa tegar mengepak sisa-sisa harapan untuk dibawa ke tempat yang baru.
Kini, dinding pembatas rel setinggi dua meter di Jalan Nias sedang dicat putih bersih, bersiap dihias mural indah oleh Pemkot dan Persebaya. Kawasan itu akan segera berubah menjadi taman kota yang cantik, terang, dan tertata rapi.
Wajah Jalan Nias memang telah diselamatkan dari kekumuhan, namun di sudut hati para pedagang yang tergusur, ada luka menganga yang kini sedang berjuang untuk disembuhkan demi keberlangsungan hidup esok hari. (Hasan N Rahmad)
