SEO
Beranda » Index Berita » Ketika Beton Kota Angkuh Menantang Langit, Hujan pun Enggan Berdamai

Ketika Beton Kota Angkuh Menantang Langit, Hujan pun Enggan Berdamai

SURABAYA, (JurnalBerita.id) — Di bawah guyuran hujan deras yang mengguyur Surabaya saat itu, antrean kendaraan mengular tanpa ujung. Klakson bersahutan, memecah deru air yang kian tinggi menggenangi aspal. Di sudut jalan, seorang pedagang kaki lima sibuk menyelamatkan barang dagangannya yang mulai terendam.

Pemandangan ini bukan lagi sebuah kejutan, melainkan rutinitas pilu yang terus berulang setiap kali awan hitam menggantung di langit kota.

Ungkapan “ketika kota dibangun dengan beton, hujan pun murka” bukan sekadar untaian kalimat puitis. Ia adalah alarm realitas yang nyata. Modernisasi yang diagungkan lewat hutan beton lambat laun telah mengubah berkah langit menjadi ancaman yang menakutkan bagi jutaan warga urban.

Hubungan yang Rusak Antara Tanah dan Langit

Siklus hidrologi bumi sebenarnya adalah sebuah sistem yang sempurna. Hujan turun, tanah menyerapnya, dan sisa air mengalir tenang menuju laut. Namun, kesempurnaan itu runtuh ketika manusia mulai menggelar semen dan aspal secara masif.

Sanksi Tegas Menanti Pemalsu Riset, Komisi X DPR Desak Penguatan Integritas Ilmiah

Di kota-kota besar, hampir 80 persen permukaan tanah kini telah tertutup oleh material kedap air. Tanah kehilangan pori-porinya, ia dipaksa mandul dan tidak lagi mampu meneguk air yang jatuh dari langit. Akibatnya, air hujan kehilangan rumahnya.

Tanpa adanya kawasan resapan, air terpaksa berkumpul di permukaan, menciptakan limpasan (run-off) yang bergerak liar, memenuhi jalan-jalan protokol, dan berubah menjadi banjir bandang dalam hitungan jam.Infrastruktur drainase yang ada pun kerap kali tak berdaya.

Dibangun dengan konsep masa lalu, saluran-saluran air bawah tanah ini dipaksa menampung volume air yang jauh melampaui kapasitasnya. Ditambah lagi dengan masalah klasik perkotaan, seperti sumbatan sampah dan pendangkalan akibat sedimentasi.

Ironi Urban Heat Island Mengundang Badai Lebih Kejam

Sifat beton tidak hanya menolak air, tetapi juga rakus menyerap panas. Fenomena yang dikenal sebagai Urban Heat Island (Pulau Panas Perkotaan) ini membuat suhu di pusat kota jauh lebih gerah dibanding wilayah pinggiran.

Berdiri di Atas Persimpangan Jalan yang Krusial

Secara ilmiah, tumpukan panas dari gedung-gedung tinggi dan aspal jalanan bertindak bagai generator raksasa di siang hari. Panas ini naik ke atmosfer, memicu ketidak seimbangan tekanan udara lokal, dan merangsang pembentukan awan konvektif secara agresif.

Ironisnya, arsitektur kota yang angkuh ini justru mengundang hujan badai yang jauh lebih ekstrem untuk mengguyur dirinya sendiri. Hujan yang turun bukan lagi rintik yang menyejukkan, melainkan hempasan air bervolume raksasa yang siap melumpuhkan urat nadi kota.

Mencari Jalan Damai, Membangun Kota Spons

Manusia tidak bisa selamanya berperang melawan alam. Kesadaran ini melahirkan paradigma baru dalam tata kota modern, Sponge City atau Kota Spons. Konsep ini menantang keangkuhan beton dengan mengembalikan fungsi alami kota sebagai penyerap air. Kota-kota masa depan kini mulai membongkar sekat-sekat semen murni.

Mereka menggantinya dengan paving block berpori yang mengizinkan air menembus ke dalam tanah. Taman-taman kota tidak lagi sekadar menjadi pemanis visual, melainkan berfungsi sebagai kantong-kantong retensi air alami.

Berjuang di Antara Hujan Subuh dan Air Pasang

Atap-atap gedung tinggi mulai dihijaukan (green roofs) untuk menahan air hujan sebelum menyentuh tanah, sementara sumur-sumur resapan modern digali di setiap sudut lingkungan.

Menata ulang kota yang telanjur dikepung beton memang bukan perkara mudah dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Namun, pilihan yang tersisa kini kian menipis. Kita bisa terus membiarkan kota mengeras dan menyaksikan “kemurkaan” hujan yang kian destruktif, atau mulai melunakkan ego arsitektur kita, memberi ruang bagi air untuk mengalir, dan kembali hidup berdampingan secara damai dengan alam. (Hasan N Rahmad)