SURABAYA, (JURNALBBERITA.ID) – Suara peluit melengking memecah hiruk-piruk kawasan Jalan Tunjungan malam itu. Di bawah pendar lampu hias yang estetik, sebut saja, Sukiran (54) dengan cekatan mengarahkan sebuah mobil minibus untuk masuk ke celah parkir yang tersisa. Senyumnya mengembang, bukan hanya karena malam minggu ini Surabaya begitu hidup, tapi karena ada yang berbeda dengan rompi parkir yang dikenakannya.
Di dada sebelah kanannya, sebuah gantungan kartu dengan kode QR (QRIS) berlogo resmi Pemerintah Kota Surabaya terpampang jelas.
Tahun ini, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Pemkot Surabaya membuat gebrakan unik, menerapkan tarif parkir khusus senilai Rp733 di puluhan titik strategis kota, asalkan warga membayar secara digital.
Bagi Sukiran, angka “733” bukan sekadar simbol usia kota tempatnya mengadu nasib sejak remaja, melainkan sebuah babak baru dalam hidupnya sebagai juru parkir tradisional yang harus “melek” teknologi.
“Awalnya ya kagok, Mas. Biasanya pegang uang lecek seribuan atau dua ribuan, sekarang warga tinggal scan HP, bunyi ‘klenting’ aplikasi, selesai,” ujar Sukiran sambil terkekeh, menyeka keringat di dahinya.
Meretas Stigma, Merangkul Digitalisasi
Kebijakan tarif Rp733 via QRIS ini sempat menuai ragu di awal pencanangannya. Banyak yang menyangka para juru parkir akan protes karena nominalnya yang tidak bulat dan sistemnya yang non-tunai. Namun, pendekatan persuasif dari Dinas Perhubungan mengubah sudut pandang mereka.
Ratusan juru parkir dibekali pelatihan singkat. Mereka diajari cara mengecek transaksi masuk hingga memberikan edukasi kepada pengendara yang belum terbiasa.
Bagi Kota Surabaya, langkah ini adalah lompatan besar untuk menekan kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menghapus stigma negatif tentang ‘parkir liar’. Bagi warga, tarif Rp733 adalah hadiah kecil yang menyenangkan di tengah pesta pora festival kota.
“Murah banget! Tadi iseng nyoba bayar pakai QRIS karena lihat spanduk HJKS, jebul (ternyata) beneran kepotong Rp733 rupiah. Unik dan kreatif banget cara ngerayain ulang tahun kotanya,” kata Amanda (22), salah satu mahasiswi yang sedang nongkrong di kawasan Tunjungan.
Geliat di lahan parkir hanyalah satu dari jutaan denyut nadi ekonomi yang bergerak selama HJKS 733. Dari parade budaya yang megah, ”Surabaya Shopping Festival” di mal-mal besar, hingga festival kuliner meriah di sudut-sudut kampung, Surabaya sedang pamer pesona. Kota ini sedang membuktikan bahwa di usianya yang hampir tiga perempat milenium, ia tidak kehilangan energi mudanya.
Bagi orang-orang seperti Sukiran, HJKS bukan sekadar tontonan kembang api atau pidato pejabat di balai kota. HJKS adalah jaminan bahwa dapur rumahnya tetap mengepul, dan kotanya terus bergerak ke arah yang lebih modern tanpa meninggalkan warganya di belakang.
Malam semakin larut, namun Jalan Tunjungan belum mau tidur. Sukiran kembali meniup peluitnya, memandu motor dan mobil yang datang silih berganti. Di balik angka 733 yang dirayakan, ada keringat dan adaptasi orang-orang kecil yang menjaga kota ini tetap ramah, tertib, dan terus melangkah maju. (Hasan N Rahmad/redjurnalberita@gmail.com)
