Featured
Beranda » Berita » Menjaga “Serambi Depan” di Jalur Tikus Kalimantan Barat

Menjaga “Serambi Depan” di Jalur Tikus Kalimantan Barat

Kepaala BNNP Kalimantan Barat, Brigjend Pol. Totok Lisdiarto, S.I.K, SH, MH (foto: *istimewa)

PONTIANAK, (JURNALBERITA.ID) — Kalimantan Barat bukan sekadar provinsi dengan hamparan hutan tropis yang luas, melainkan “serambi depan” Indonesia yang berbatasan langsung sepanjang ratusan kilometer dengan Malaysia. Di balik pos-pos megah Pos Lintas Batas Negara (PLBN), terbentang ribuan jalur tikus, jalan setapak tak resmi yang kerap menjadi urat nadi penyelundupan barang haram narkotika jaringan internasional.

Menghadapi ancaman yang cair dan bergerak di bawah radar ini, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat membutuhkan nakhoda yang tidak hanya paham strategi, tetapi juga memiliki mentalitas lapangan yang tangguh. Sejak 30 April 2025, tongkat komando itu resmi berada di tangan Brigjen Pol. Totok Lisdiarto S, S.I.K, SH, MH.

Pria lulusan Akpol 1994 yang dibesarkan di lingkungan elit Korps Brimob ini membawa angin baru dalam peta komparasi pemberantasan narkoba di Bumi Khatulistiwa.

Ketegasan Brimob di jalur tapal perbatasan, bagi Totok Lisdiarto, perbatasan bukanlah garis abstrak di atas peta, melainkan medan tempur nyata. Berbekal pengalaman panjang sebagai Kasat Brimob Polda Sulsel hingga Polda Jatim, serta rekam jejak mumpuni di bidang pemberantasan BNNP Lampung dan Kalimantan Selatan, ia paham betul bahwa pendekatan konvensional tidak akan cukup.

Begitu menjabat, langkah pertamanya adalah memperkuat simpul-simpul pertahanan di garda terdepan. Salah satu fokus utamanya adalah memperketat pengawasan di wilayah hukum strategis seperti PLBN Jagoi Babang. Di sana, Totok tidak hanya melakukan sidak seremonial, melainkan mengonsolidasikan kekuatan komparatif antara unsur Customs, Immigration, Quarantine, and Security (CIQS) dengan aparat penegak hukum lokal.

AMI Akan Laporkan Dugaan Pengemplangan Dana Reses Anggota DPRD Surabaya ke Kejaksaan

“Kita tidak bisa bekerja dalam sekat-sekat ego sektoral. Penyelundup narkoba memanfaatkan celah sekecil apa pun, dan tugas kita adalah menutup celah itu bersama-sama,” ungkap jenderal bintang satu kelahiran Sumenep ini dalam salah satu arahannya.

Hasilnya nyata, sepanjang tahun 2025, di bawah kepemimpinannya, BNNP Kalbar bertindak agresif dan berhasil membongkar sedikitnya empat jaringan narkotika internasional yang mencoba memanfaatkan jalur darat Kalimantan Barat sebagai pintu masuk pasar Indonesia.

Melampai senjata, merangkul benteng sosial, jika Anda mengira strategi Totok hanya seputar moncong senjata dan operasi senyap, Anda keliru. Menghadapi gurita narkoba, Totok justru mengedepankan taktik ganda: penindakan taktis di perbatasan, dan penguatan benteng sosial di tengah masyarakat.

Ia menyadari bahwa wilayah Kalbar yang luas mustahil diawasi penuh oleh personel BNN yang terbatas. Oleh karena itu, BNNP Kalbar di bawah komandonya secara masif merangkul lintas Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), tokoh adat, tokoh agama, hingga organisasi kepemudaan.

Masyarakat perbatasan dan perkotaan disulap menjadi “mata dan telinga” negara melalui program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Baginya, membentengi mental generasi muda Kalimantan Barat dari iming-iming materi sindikat adalah investasi jangka panjang yang sama pentingnya dengan menangkap bandar besar.

Kombes Harissandi, Figur Tegas di Balik Kebijakan Zero Tolerance Demi Marwah Polri

Tantangan yang belum usai, di tahun 2026 tantangan peredaran narkotika global justru semakin kompleks dengan munculnya varian-varian zat adiktif baru. Namun, dengan integrasi rekam jejak taktis khas Brimob dan pendekatan humanis ke masyarakat lokal, Brigjen Pol. Totok Lisdiarto terus membuktikan bahwa serambi depan Indonesia di Kalimantan Barat bukanlah halaman belakang yang mudah disusupi, melainkan dinding kokoh yang siap menghalau setiap ancaman yang merusak masa depan bangsa. (Hasan N Rahmad/hnrindo@gmail.com)