PACITAN, (JurnalBerita.id) – Pagi itu, matahari baru saja meninggi di ufuk timur Kabupaten Pacitan. Namun, suasana di halaman Masjid Al Hidayah dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pacitan sudah tampak riuh. Bukan oleh deru kendaraan atau hiruk-pikuk pasar, melainkan oleh canda tawa dan gemerisik sapu lidi yang beradu dengan aspal.
Pemandangan menyejukkan ini menjadi bagian dari aksi nyata jajaran Polsek Pacitan Kota dan Polres Pacitan. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, korps baju cokelat ini memilih turun ke lapangan.
Mereka tidak membawa tameng atau gas air mata, melainkan sapu, kain pel, dan cat tembok. Kegiatan bertajuk “Bakti Religi” ini menjadi bukti nyata bahwa tugas kepolisian tidak melulu soal penegakan hukum. Lebih dari itu, ada misi kemanusiaan dan perawat toleransi yang sedang ditanamkan di tanah kelahiran Presiden ke-6 RI ini.
Di area GKJW Pacitan, terlihat beberapa personel kepolisian bahu-bahu dengan jemaat gereja mengecat pagar yang mulai kusam. Sementara di Masjid Al Hidayah, puluhan anggota polisi bersama warga sekitar khusyuk membersihkan tempat wudhu dan merapikan barisan sajadah.

Bhakti Relegi Polsek Pacitan Kota di Masjid Al Hidayah (Foto: dokumen)
“Ini bukan sekadar aksi bersih-bersih musiman,” ujar Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, di sela-sela memantau kegiatan.
“HUT Bhayangkara ke-80 dengan tema ’80 Tahun Pengabdian Polri Untuk Masyarakat’ adalah momentum kami untuk kembali ke akar. Kami ingin hadir langsung, menyentuh aspek spiritual dan sosial masyarakat,” sambungnya
Sentuhan humanis ini langsung dirasakan oleh warga
Saryono (54), salah satu pengurus rumah ibadah, mengaku terharu dengan kehadiran para polisi yang tanpa ragu mengotori seragam mereka demi kenyamanan jemaat.
“Rasanya adem melihat pak polisi dan warga membaur begini. Tidak ada batasan. Ini membuat kami merasa benar-benar diayomi,” ungkap Saryono dengan mata berbinar.
Doa Bersama untuk Kedamaian Bangsa
Rangkaian kegiatan religi ini tidak berhenti pada aksi fisik. Sebagai puncaknya, Gedung Graha Polres Pacitan menjadi saksi bisu berkumpulnya para tokoh lintas agama, ulama, dan tokoh pemuda dalam acara Tasyakuran dan Doa Bersama.
Di bawah atap yang sama, untaian doa dipanjatkan bergantian menurut keyakinan masing-masing. Suasana khidmat begitu terasa, menyiratkan pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan di Pacitan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang harus dijaga.
Bagi Polsek Pacitan Kota, giat religi ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan situasi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) yang kondusif.
Ketika hubungan emosional antara aparat dan pemuka agama sudah terbangun kuat, maka segala potensi konflik di masyarakat akan lebih mudah diredam sejak dini.
Setelah aksi religi dan sosial seperti donor darah usai digelar, puncak peringatan sewindu pengabdian ini ditutup dengan upacara khidmat di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan.
Dihadiri oleh jajaran Forkopimda, upacara tersebut menjadi penanda refleksi atas apa yang telah dilakukan Polri selama 80 tahun terakhir, sekaligus komitmen untuk masa depan.

Pengabdian tanpa sekat jajaran Polsek Pacitan Kota di Masjid Al Hidayah (Foto: dokumen)
Bagi masyarakat Pacitan, peringatan HUT Bhayangkara tahun ini meninggalkan kesan mendalam. Polisi bukan lagi sosok yang ditakuti di jalanan, melainkan sahabat yang hadir di masjid, gereja, dan di tengah-tengah ruang keluarga mereka.
Dari Pacitan, seuntai pesan toleransi dan pengabdian telah digaungkan ke seluruh penjuru negeri. (Hasan N Rahmad)
