Jatim
Beranda » Index Berita » Megaproyek Ratusan Miliar yang Mati Suri di Tangan BUMD Jatim

Megaproyek Ratusan Miliar yang Mati Suri di Tangan BUMD Jatim

Suasana pasar Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo (Foto: *istimewa)

SIDOARJO, (JurnalBerita.id) – Deretan kios terkunci rapat. Debu tebal menyelimuti lantai semen yang retak, sementara papan nama pedagang mulai pudar dimakan cuaca. Di sudut lain, beberapa los pasar tampak melompong tanpa aktivitas. Keheningan ini menyelimuti Pasar Induk Modern Puspa Agro di Jemundo, Sidoarjo, sebuah proyek yang awalnya digadang-gadang menjadi pusat kejayaan agrobisnis Jawa Timur.

Alih-alih menjadi urat nadi pangan regional, pasar induk ini kini lebih mirip kota mati. Di balik sepinya aktivitas perdagangan, ada aliran dana puluhan hingga ratusan miliar rupiah dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur yang telah tertanam di sana. Investasi raksasa yang bersumber dari uang rakyat tersebut kini dipertanyakan efektivitasnya karena minim menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Saat dikonfirmasi mengenai kondisi miris ini dan pertanggungjawaban modal daerah yang dinilai menguap, Direktur Utama PT Jatim Grha Utama (JGU), Mirza Muttaqien, memilih untuk bungkam.

Direktur Utama PT Jatim Grha Utama (JGU), Mirza Muttaqien (Foto:*istimewa)

Sikap diam manajemen BUMD ini kian mempertebal kabut ketidakpastian atas masa depan aset daerah tersebut.

Mimpi Besar yang Layu Sebelum Berkembang

Kursi Panas Birokrasi: “Zona Nyaman” Aparatur Sipil Negara di Tengah Roda Penyegaran

Didirikan sejak tahun 2010 di bawah naungan PT Puspa Agro (anak perusahaan PT JGU), pasar ini awalnya diproyeksikan memotong rantai distribusi pertanian yang panjang. Petani diharapkan bisa langsung menjual hasil panen ke pasar induk dengan harga berkeadilan.

Namun, realita di lapangan berbicara lain, lapak kosong menjamur. Mayoritas blok komoditas, mulai dari sayur hingga buah, kini ditinggalkan pedagang karena sepinya pembeli.

Fasilitas mangkrak, beberapa infrastruktur pendukung yang dibangun dengan biaya besar tampak terbengkalai dan tidak terawat.

Aksesibilitas lambat, sulitnya akses transportasi besar menuju lokasi dituding menjadi salah satu pemicu enggan datangnya para pelaku pasar makro.

Berpaling ke Jatim Hub Nusantara Gateway

“Filosofi Perjuangan” Budi Leksono untuk Anak-Anak Surabaya

Sadar bahwa konsep pasar induk agrobisnis konvensional mengalami jalan buntu, manajemen PT JGU kini mencoba memutar kemudi bisnis. Kawasan Puspa Agro yang luas tersebut kini tengah diupayakan untuk bertransformasi menjadi Jatim Hub Nusantara Gateway.

Rencananya, kawasan ini akan dialihfungsikan menjadi fasilitas dry port berbasis karantina terpadu pertama di Indonesia. Proyek ambisius ini diharapkan mampu memangkas waktu tunggu (dwelling time) logistik ekspor-impor di Jawa Timur. Kendati demikian, publik tetap menaruh keraguan.

Apakah proyek baru ini akan menjadi solusi konkret, atau sekadar strategi untuk mengaburkan kegagalan fungsi pasar induk yang telah menelan biaya ratusan miliar? Waktu yang akan menjawab apakah transformasi ini mampu menghidupkan kembali lahan “mati suri” di Jemundo, atau justru menambah daftar panjang investasi daerah yang berakhir sia-sia. (Hasan N Rahmad)