SURABAYA, (Jurnal berita.id) – Suara melengking khas mesin dua tak memecah keheningan sore di sudut Kota Pahlawan. Ratusan sepeda motor Yamaha RX King tampak berbaris rapi. Di atas sadel besi-besi tua legendaris itu, tidak ada sekat penanda status sosial. Baik pengusaha, pekerja kantoran, hingga buruh pabrik melebur menjadi satu di bawah satu slogan keramat: “Satu Raja, Sejuta Saudara“.
Namun, pemandangan ini bukan lagi tentang adu kecepatan atau pamer modifikasi. Komunitas yang dahulu sering kali dihantui stigma negatif “motor jambret” kini telah bertransformasi total.
Di barisan paling depan, tampak sosok Syaifuddin Zuhri, pembina komunitas RX King sekaligus legislator yang duduk sebagai Ketua DPRD kota Surabaya yang sedang sibuk mengarahkan anggotanya.
Bagi pria yang akrab disapa Cak Ipuk ini, memimpin komunitas motor bukan sekadar urusan hobi atau sekadar berkumpul melepaskan penat. Ada sebuah tanggung jawab moral yang besar yang harus diisi di dalam jiwa kebersamaan tersebut.
Mengubah Citra, Mengetuk Pintu Peduli
“Komunitas RX King tidak boleh sekadar menjadi wadah penyaluran hobi otomotif,” tegas Syaifuddin Zuhri di sela-sela kegiatan meramut raja jalanan itu.
Kalimat itu bukan sekadar jargon retoris. Menurutnya, solidaritas kuat yang dimiliki oleh para penunggang “Raja Jalanan” adalah modal sosial yang sangat besar jika diarahkan ke hal-hal positif. Beliau menekankan bahwa setiap anggota wajib memiliki kepedulian sosial yang nyata terhadap lingkungan sekitar.
“Kita punya massa yang loyal, punya kekompakan yang solid. Jiwa kebersamaan ini harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan cuma dinikmati di internal klub,” tambahnya.
Manifestasi dari arahan tersebut terlihat nyata dalam berbagai aksi lapangan. Mulai dari pembagian ribuan paket takjil gratis di kawasan Taman Bungkul saat Ramadan, santunan anak yatim, hingga penggalangan dana darurat ketika bencana alam melanda.
Di jalanan, mereka yang dahulu dihindari karena suara knalpotnya yang bising, kini justru dinanti karena uluran tangannya yang ringan membantu sesama.
Merawat Jiwa Kekerabatan yang Unik
Mengapa solidaritas RX King begitu mengakar? Jawabannya ada pada proses. Merawat motor yang sudah tidak diproduksi lagi sejak tahun 2009 ini membutuhkan perjuangan tersendiri.
Berbagi informasi tentang suku cadang, saling membantu saat ada anggota yang mogok di jalan, hingga nongkrong bersama di pinggir jalan melahirkan ikatan emosional yang mekanismenya mirip dengan keluarga kandung.
Syaifuddin Zuhri melihat celah emosional ini sebagai jembatan untuk mengedukasi anggotanya. Di bawah binaannya, jiwa kebersamaan itu disuntikkan nilai-nilai baru: kesantunan berkendara, ketaatan hukum, dan kepekaan terhadap kemiskinan kota.
Kini, setiap kali mesin RX King menderu di jalanan Surabaya, masyarakat tidak lagi melihatnya sebagai ancaman. Komunitas ini telah berhasil membuktikan bahwa di balik jaket kulit hitam dan deru mesin yang garang, ada hati yang peka terhadap urusan kemanusiaan.
Melalui komitmen para tokoh pembina dan kesadaran anggotanya, RX King bukan lagi sekadar sejarah industri otomotif yang usang. Ia telah menjelma menjadi simbol pergerakan sosial yang bergerak dinamis di atas dua roda, membuktikan bahwa persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang memberi dampak. (Hasan N Rahmad)
