Featured
Beranda » Berita » Mengintip Pesona Sumenep, Surga Oksigen dan Warisan Dunia di Ujung Madura

Mengintip Pesona Sumenep, Surga Oksigen dan Warisan Dunia di Ujung Madura

Masjid Jamik Kabupaten Sumenep (*istimewa)

SUMENEP, (JURNALBERITA.ID), – Riuh angin laut menyambut setiap langkah kaki saat menginjakkan kaki di Pelabuhan Dungkek, pintu gerbang menuju salah satu rahasia alam terbaik di Indonesia. Kabupaten Sumenep, yang bertengger manis di ujung paling timur Pulau Madura, kini bukan lagi sekadar kota transit. Wilayah berjuluk Bumi Sumekar ini telah bermutasi menjadi magnet pariwisata baru yang memikat hati para pelancong domestik hingga mancanegara.

Bukan tanpa alasan Sumenep dijuluki sebagai kota impian. Daerah ini menyimpan harmoni sempurna antara keajaiban alam yang murni, jejak sejarah yang megah, dan ketenangan spiritual yang pekat.

Menghirup kemurnian di Gili Iyang, bicara soal Sumenep, perhatian dunia kini tertuju pada Pulau Gili Iyang. Pulau kecil ini mendadak legendaris setelah dinobatkan sebagai wilayah dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia setelah Laut Mati di Yordania.

Berada di sini, udara terasa sangat ringan dan menyegarkan. Tak heran jika banyak wisatawan datang bukan hanya untuk bertamasya, melainkan untuk terapi kesehatan alami. Ditambah dengan keramahan warga lokal yang rata-rata berumur panjang, Gili Iyang menawarkan kemewahan yang tak lagi bisa dibeli di kota-kota besar: udara bersih tanpa polusi.

Bagi pencinta pemandangan bawah laut, Sumenep juga punya Gili Labak. Pulau tak berpenghuni dengan hamparan pasir putih sehalus tepung ini dikelilingi oleh air laut jernih bergradasi biru-toska, menjadi surga tersembunyi bagi para pencinta snorkeling dan diving.

Jejak Emas Alumnus Terbaik Korps Baret Ungu di Garis Depan

Merawat tradisi di Ibu kota Keris dunia, beranjak dari wisata bahari, Sumenep membawa kita masuk ke lorong waktu melalui kekayaan budayanya.

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Desa Aeng Tong-tong di Kecamatan Saronggi. Desa ini telah diakui oleh UNESCO sebagai wilayah dengan pengrajin keris terbanyak di dunia. Memasuki desa ini, dentingan martil yang menempa besi membubung ke udara di sela-sela aktivitas harian warga. Mulai dari pemuda hingga tetua, keahlian menempa keris diwariskan turun-temurun, menjaga pusaka Nusantara tetap hidup di era modern. Aura kejayaan masa lalu juga masih terasa kental di Keraton Sumenep.

Berdiri megah di pusat kota, keraton ini menjadi saksi bisu akulturasi budaya yang unik. Desain arsitekturnya mengawinkan gaya Jawa, Islam, China dan Eropa sebuah bukti nyata bahwa keterbukaan dan toleransi telah menjadi urat nadi masyarakat Sumenep sejak berabad-abad lalu.

Komitmen modernisasi pariwisata, lonjakan kunjungan wisatawan ke Sumenep dalam beberapa tahun terakhir tidak terjadi secara kebetulan. Pemerintah Kabupaten Sumenep di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo terus gencar bersolek. Melalui strategi kolaborasi multipihak, pemerintah daerah rutin menggelar berbagai festival kebudayaan bertaraf nasional sepanjang tahun demi menghidupkan ekonomi kreatif lokal.

Infrastruktur penunjang, mulai dari akses jalan, moda transportasi penyeberangan dermaga, hingga pelatihan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) terus ditingkatkan demi menjamin kenyamanan maksimal bagi para pelancong.

Menjaga “Serambi Depan” di Jalur Tikus Kalimantan Barat

Saat matahari mulai tenggelam di balik dinding Masjid Jami Panembahan Somala, Sumenep seolah membisikkan janji, bahwa keindahan yang dirawat dengan hati akan selalu menuntun orang untuk kembali. Kota ini bukan lagi sekadar mimpi di ujung peta, melainkan destinasi nyata yang siap memanjakan jiwa setiap petualang.

(Hasan N Rahmad/hnr71@gmail.com)