Featured
Beranda » Index Berita » “Menolak Menjadi Bayang-Bayang” Menakar Ulang Arti Merdeka di Era Hegemoni Modern

“Menolak Menjadi Bayang-Bayang” Menakar Ulang Arti Merdeka di Era Hegemoni Modern

JurnalBerita.id — Bendera Merah Putih berkibar gagah di langit Agustus. Di bawahnya, jutaan warga merayakan kebebasan dengan gegap gempita. Namun, di balik riuhnya perlombaan dan upacara, sebuah pertanyaan mendasar kembali menyeruak di ruang publik.

Apakah kita benar-benar telah merdeka, atau sekadar berpindah ke dalam jebakan kemerdekaan yang hegemonial?

Kemerdekaan hegemonial adalah sebuah ironi zaman modern. Secara hukum dan administratif, sebuah bangsa dinyatakan berdaulat penuh.

Namun secara substantif, roda ekonomi, arah kebijakan politik, hingga gaya hidup masyarakatnya masih disetir oleh kekuatan tak kasat mata baik itu korporasi global, tekanan geopolitik asing, maupun cengkeraman oligarki domestik.

Penjajahan Tanpa Senjata

Resmi Dibuka! Kemenimipas Cari 405 Taruna Baru Poltekimipas 2026, Kuliah Gratis Lulus Jadi PNS

“Kita tidak lagi dijajah oleh senapan, tetapi oleh sistem,” ujar Dr. Ahmad Syafii, seorang sosiolog politik.

Menurutnya, hegemoni modern bekerja dengan cara yang sangat halus. Ia masuk melalui perjanjian dagang yang mengikat, arus modal yang mendikte hukum, hingga budaya pop yang mengikis identitas lokal.

Di sektor ekonomi, ketergantungan pada impor teknologi dan eksploitasi bahan mentah tanpa hilirisasi yang mandiri menjadi bukti nyata.

Bangsa ini kaya akan sumber daya, namun nilai tambahnya justru dinikmati oleh para pemilik modal di luar sana. Masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton atau buruh di tanah airnya sendiri.

Kekuasaan di Tangan Segelintir Elite

12 Tahun Target Parkir Surabaya Jeblok, Sukadar: Kalau Masih Manual, Bocor Terus

Tantangan terbesar kemerdekaan hari ini bukan lagi mengusir kompeni, melainkan melawan ketimpangan. Ketika keputusan-keputusan strategis negara lebih banyak berpihak pada akumulasi kekayaan segelintir elite ketimbang kesejahteraan rakyat rata-rata, di situlah hegemoni domestik terjadi.

Kemerdekaan akhirnya hanya dinikmati oleh kelas atas, sementara kelas pekerja tetap terjebak dalam siklus kemiskinan yang sistemis.

Tidak hanya itu, hegemoni juga merambah dunia digital dan pola pikir. Algoritma media sosial mendikte cara masyarakat mengonsumsi informasi, memicu polarisasi, dan melahirkan generasi yang mengalami inferiority complex merasa budaya luar selalu lebih mulia daripada budaya sendiri.

Menyeberangi ‘Jembatan Emas’ Bung Karno pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan hanyalah sebuah “jembatan emas”.

Di seberang jembatan itulah sebuah bangsa baru mulai membangun jati dirinya yang asli. Jika kita berhenti di tengah jembatan dan membiarkan diri disetir oleh kepentingan luar, maka kita belum benar-benar sampai di tujuan. Memutus rantai hegemoni ini membutuhkan keberanian kolektif.

Rekrutmen Calon Direksi BUMD Surabaya Disorot, Dianggap Pemborosan Anggaran Rakyat

Langkahnya harus dimulai dari kedaulatan pangan, penguatan riset teknologis lokal, hingga reformasi pendidikan yang memerdekakan nalar berpikir kritis generasi muda.

Merdeka bukan sekadar bebas dari belenggu fisik masa lalu. Merdeka yang hakiki adalah kemampuan penuh untuk menentukan nasib, mengelola kekayaan, dan bangga atas identitas bangsa sendiri di panggung dunia. Tanpa itu, kemerdekaan kita akan terus menjadi kemerdekaan yang semu sebuah kemerdekaan yang hegemonial saja. (Hasan N Rahmad)