Nasional
Beranda » Index Berita » Berlari Mengejar Prestasi, Berjalan dengan Adab

Berlari Mengejar Prestasi, Berjalan dengan Adab

SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Ruang-ruang kelas di SMA Negeri 6 dan SMK Negeri 3 Surabaya tampak riuh oleh ambisi muda para pelajar. Namun, di tengah gemuruh mengejar nilai akademik tinggi dan penguasaan teknologi, sebuah pesan mendalam hadir mengingatkan akar dasar kemanusiaan.

“Kesuksesan tidak cukup hanya dengan belajar keras. Restu orang tua dan penghormatan kepada guru adalah faktor penting yang akan mengantarkan kalian meraih cita-cita,” tegas Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM. dalam agenda Reni Goes to School di Surabaya pada akhir Juli lalu.

Pernyataan tersebut menyoroti realitas pendidikan modern, prestasi tanpa karakter dan adab hanyalah panggung yang rapuh.

Berlari Mengejar Prestasi, Berjalan dengan Adab

Di era kecerdasan buatan dan kompetisi global yang ketat, mengejar nilai akademis kerap kali menjadi fokus tunggal. Siswa dipacu untuk menguasai rumus, mengumpulkan sertifikat juara, dan menembus kampus impian.

Cari Pemimpin Bersih, Eri Cahyadi Buka Seleksi Dirut KBS Secara Nasional

Reni menyebut bahwa “mimpi besar dimulai dari karakter dan adab yang baik”.

Namun, Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Kemenag mengingatkan prinsip dasar tradisi kita “al-adab qabla al-‘ilm” adab sebelum ilmu.Tanpa pondasi moral, kecerdasan intelektual yang tinggi berisiko berubah menjadi kesombongan intelektual atau bahkan alat yang merusak lingkungan sosial. Seseorang yang berprestasi namun miskin etika akan kesulitan bekerja dalam tim, abai terhadap empati, dan rentan melakukan kecurangan demi validasi angka.

Dua Sayap Generasi Masa Depan

Mengapa keseimbangan ini begitu krusial?Karakter sebagai pondasi kehidupan nyata yang akan membentuk ketahanan mental. Anak muda yang berkarakter kuat tidak akan mudah tumbang saat menghadapi kegagalan di dunia kerja.

Keterampilan teknis (hard skills) membuka pintu wawancara kerja, namun integritas, kesopanan, dan kemampuan berkolaborasi (soft skills) yang menjaga posisi seseorang tetap bertahan lama, demi keberlanjutan karier seorang anak

Anas Karno Minta Camat hingga RT-RW Perkuat Deteksi Dini Jaga Kondusivitas Surabaya

Dalam budaya ketimuran, keberkahan ilmu erat kaitannya dengan cara seseorang menghormati pendidik dan orang tua mereka. Restu ini yang membangun ketenteraman batin dan kompas moral sang anak nantinya.

Mengembalikan Ruang Karakter di Sekolah

Menjawab tantangan ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai menggaungkan gerakan pembiasaan karakter sejak dini. Mulai dari hal-hal kecil seperti pembiasaan beribadah, budaya menyapa, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara konsisten.

Sekolah tidak boleh lagi sekadar menjadi “pabrik nilai”, melainkan laboratorium pembentukan manusia seutuhnya. Bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah dirancang agar anak bangsa tidak kehilangan mimpi akibat keterbatasan ekonomi.

Namun, fasilitas tersebut harus diimbangi dengan kesadaran pelajar untuk memanfaatkannya demi membangun kepemimpinan, integritas, dan akhlak mulia.Ketika mencetak generasi penerus, taruhannya bukan sekadar seberapa pintar mereka menguasai dunia, melainkan seberapa bijak mereka memperlakukan sesama manusia.

DPRD Surabaya Mediasi Polemik “Arisan Meow”, Dana Macet Rp2,08 Miliar

Prestasi membawa mereka ke puncak, tetapi adab dan karakter yang membuat mereka tetap bertahan dengan terhormat di sana. (Hasan N Rahmad)