Peristiwa
Beranda » Index Berita » Ketika Air Kran Berubah Jadi “Busa Sabun” dan Berbau Menyengat

Ketika Air Kran Berubah Jadi “Busa Sabun” dan Berbau Menyengat

(foto: *istimew)

SURABAYA, (JurnalBerita.id)– Sejak Minggu (6 September 2026), rona cemas menyelimuti wajah para ibu rumah tangga di wilayah Gunungsari, Kedurus, hingga Simo. Alih-alih mendapatkan air bersih untuk menyambut pagi, ribuan warga Kota Pahlawan justru dikejutkan oleh air kran yang mengalir keruh, berwarna kecokelatan, dan dipenuhi busa putih tebal mirip busa detergen.

Tak hanya itu, aroma kimia yang menyengat langsung menusuk hidung begitu kran diputar. Fenomena ini mendadak viral di media sosial. Puluhan video kiriman warga memperlihatkan ember-ember mandi yang dipenuhi busa, memicu kekhawatiran massal mengenai keamanan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Menelusuri Hulu Masalah, Kali Surabaya Tercemar Berat

Pihak PDAM Surya Sembada Kota Surabaya bergerak cepat mengidentifikasi biang keladi krisis ini. Masalah utama ternyata bukan pada sistem pipa kota, melainkan pada pencemaran berat berskala besar di sumber air baku yang masuk ke IPAM (Instalasi Pengolahan Air Minum) Karang Pilang.

Berdasarkan investigasi awal bersama Perum Jasa Tirta (PJT) 1, ditemukan adanya indikasi kuat buangan limbah ekstrim di hulu, tepatnya dari arah Kali Tengah yang mengalir ke Kali Surabaya. Limbah misterius inilah yang memicu melonjaknya kandungan zat organik dan zat kimia pembentuk busa raksasa.

Sugeng Supriyadi Melaporkan Kehilangan STNK di Polsek Taman Sidoarjo

Muncul spekulasi di lapangan bahwa cairan tersebut menyerupai sisa foam pemadam kebakaran atau limbah industri berbusa tinggi, yang saat ini sampelnya sedang diuji intensif di laboratorium.

Dilema Warga, Takut Gatal, Terpaksa Beli Air Galon

Bagi warga terdampak, situasi ini sangat memukul aktivitas domestik mereka. Banyak warga memilih menguras total bak mandi mereka karena takut terkena iritasi kulit.

“Mau dipakai mandi takut gatal-gatal, apalagi ada anak kecil. Mau dipakai masak jelas tidak berani karena baunya seperti obat kimia yang tajam sekali,” keluh salah satu warga perumahan di kawasan Surabaya Barat.

Demi bertahan hidup, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air mineral galon guna keperluan memasak, mencuci piring, hingga menyikat gigi.Upaya Keras Netralisasi dan Pasokan Tangki Darurat.

Mimpi Arek Suroboyo Tembus Garuda Muda: Saat Cak Armuji Jamu Dua Punggawa Baru Timnas PSSI Garuda U-16

Merespons krisis air baku ini, petugas teknis PDAM Surabaya bekerja ekstra keras dengan melakukan dua langkah darurat. Pembersihan Pipa (Flushing).

Petugas membuka katup-katup pembuangan (wash out) di berbagai titik kota untuk menguras sisa air keruh yang sempat terjebak di dalam jaringan pipa distribusi warga.

Peningkatan Klorinasi, dosis disinfektan (klorin) pada IPAM dinaikkan untuk mengikat zat organik berbahaya. Efek sampingnya, air yang mulai menjernih di beberapa kawasan mungkin akan terasa berbau kaporit cukup tajam untuk sementara waktu.

Apa yang Harus Dilakukan? Pihak berwenang mengimbau warga di area terdampak untuk tidak mengonsumsi atau menggunakan air yang masih berbusa demi keselamatan kesehatan.

Bagi warga yang wilayahnya mengalami penghentian aliran total atau kualitas airnya masih sangat buruk, PDAM Surabaya menyediakan layanan pengiriman tangki air bersih gratis. Warga dapat langsung mengajukan permohonan bantuan atau melaporkan kondisi terkini di wilayahnya melalui:Call Center PDAM: 08001926666 (Bebas Pulsa) Aplikasi Seluler: WargaKu Surabaya

Penjelasan Pemkot Surabaya Soal Penurunan PKB dan Pembiayaan Rp1,4 Triliun di Rapat Paripurna DPRD

Krisis ini menjadi alarm keras bagi semua pihak bahwa perlindungan terhadap Kali Surabaya sebagai urat nadi air minum warga kota sudah berada di titik kritis yang tidak boleh diabaikan lagi. (Hasan N Rahmad)