SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Riuh rendah dunia pendidikan hari ini sering kali terjebak dalam angka, sertifikasi, dan kompetisi pasar kerja. Anak-anak didorong untuk menjadi yang tercepat dan terpintar secara akademis. Namun, di tengah perlombaan mengejar kecerdasan intelektual tersebut, sebuah refleksi mendalam hadir dari Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Reni Astuti, S.Si, M.PSDM.
Bagi legislator Fraksi PKS ini, ada satu fondasi krusial yang tidak boleh roboh dalam proses mencetak generasi masa depan, pendidikan akhlak.
Dalam berbagai kesempatan formal maupun dialog santai bersama elemen pendidikan, Reni tak lelah menyuarakan bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya dijembatani oleh deretan angka di atas kertas rapor. Baginya, esensi sejati dari pendidikan adalah pembentukan kepribadian.
“Pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan yang siap bersaing secara ekonomi, melainkan melahirkan manusia yang berintegritas,” tegas Reni.
Kata ‘integritas’ inilah yang ia garis bawahi sebagai pembeda antara generasi yang sekadar cerdas, dengan generasi yang mampu memimpin bangsa dengan hati.
Meletakkan Karakter di Atas Lembar Nilai
Menurut Reni, pergeseran orientasi pendidikan yang terlalu fokus pada aspek ekonomi dan industri berisiko mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Ketika sekolah hanya dilihat sebagai pabrik pencetak tenaga kerja, maka ruang-ruang diskusi moral akan menyempit.
“Kita tidak boleh melahirkan generasi yang pintar secara digital, namun hampa secara moral. Pintar saja tidak cukup jika tidak dibersamai oleh kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati kepada sesama,” ujar Reni saat memberikan pemaparannya mengenai arah kurikulum nasional.
Oleh karena itu, ia mendorong agar kurikulum dan sistem pengajaran menempatkan penanaman akhlak mulia sebagai pilar utama. Pelajar masa kini harus berani bermimpi besar, menguasai teknologi, dan mengukir prestasi internasional.
Namun, rasa hormat yang tulus kepada orang tua serta para guru merupakan tolok ukur utama dari keberhasilan sebuah institusi pendidikan. Dari nilai bakti dan ketakziman itulah, karakter kepemimpinan yang kokoh dan disegani akan lahir secara alami.
Sekolah Aman dan Sinergi Hangat dari Rumah
Visi besar Reni Astuti mengenai pendidikan akhlak juga diturunkan ke dalam ranah praktis yang terjadi di sekolah sehari-hari.
Salah satu isu yang paling konsisten ia suarakan adalah penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Reni mengutuk keras segala bentuk perundungan (bullying), baik yang bersifat fisik maupun verbal, termasuk saat masa orientasi siswa atau MPLS.
“Sekolah harus menjadi rumah kedua yang nyaman, tempat di mana potensi anak dihargai, bukan dihancurkan oleh rasa takut. Di lingkungan yang minim intimidasi, karakter positif anak akan tumbuh dengan lebih optimal,” jelasnya penuh penekanan.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa beban membentuk moral anak tidak bisa sepenuhnya dilemparkan ke pundak guru di sekolah. Guru memiliki keterbatasan waktu dan ruang.
Sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua di rumah adalah kunci utama yang tidak boleh terputus. Komunikasi yang harmonis antara ayah-bunda dan pendidik akan menciptakan pengawasan serta bimbingan yang selaras bagi tumbuh kembang anak.
Melalui perannya di Komisi X DPR RI, Reni Astuti terus mengawal agar regulasi dan anggaran pendidikan berpihak pada kesejahteraan moral bangsa.
Menuju satu abad kemerdekaan Indonesia, ajakan Reni sangat jelas: mari bersama-sama menempa akhlak anak-anak kita.
Karena pada akhirnya, peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki keluhuran budi pekerti. (Hasan N Rahmad)

