Nasional
Beranda » Index Berita » Menjaga Nadi Inovasi dari Kota Pahlawan: Riset Berkualitas Bukan Proyek Sulap

Menjaga Nadi Inovasi dari Kota Pahlawan: Riset Berkualitas Bukan Proyek Sulap

Dr. Reni Astuti, S.Si, M.PSDM, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS (foto: *istimewa)

SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Di koridor kampus-kampus besar Surabaya, deru mesin laboratorium dan perdebatan ruang kelas adalah detak jantung kemajuan bangsa.

Inovasi, paten, dan jurnal ilmiah internasional lahir dari sini, memperkuat posisi Kota Pahlawan sebagai salah satu episentrum pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, di balik megahnya target riset berskala global, terselip sebuah realitas mendasar: nasib para pemikir di balik meja kerja.

Hal inilah yang mendasari kelantangan suara Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM., Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, saat membawa aspirasi dari daerah pemilihannya, Dapil Jawa Timur I (Surabaya-Sidoarjo), ke tingkat pusat.

Bagi legislator yang baru saja meraih gelar Doktor dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, menuntut universitas menghasilkan riset yang bersaing di kancah internasional tanpa membenahi kesejahteraan dosen adalah sebuah ketimpangan.

Dalam forum formal bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Reni menegaskan bahwa iklim riset yang sehat tidak bisa dipisahkan dari jaminan hidup yang layak bagi para pengajar.

Ketika Penertiban Memicu Ketakutan Usaha

“Kita tidak bisa terus-menerus menuntut kualitas riset yang tinggi dan pendidikan yang unggul, sementara di sisi lain, kesejahteraan dosen dan tenaga pendidik masih sering terabaikan,” ujar Reni dalam sebuah kesempatan rapat kerja.

Menurutnya, fokus peneliti akan terpecah jika urusan kebutuhan dasar mereka sehari-hari belum sepenuhnya selesai.

Reni Astuti bukan sekadar politisi yang berbicara dari balik meja teori. Ia merasakan sendiri ketatnya atmosfer akademik Surabaya saat menyelesaikan studi S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Airlangga dengan predikat Cumlaude.

Melalui riset disertasinya yang menyoroti pola kepemimpinan politik, ia membuktikan bahwa hasil kajian akademis ilmiah sangat krusial sebagai fondasi penyusunan kebijakan publik berbasis data (data-driven policy). Riset ilmiah, menurutnya, adalah kompas agar kebijakan pemerintah tidak salah sasaran.

Menjaga Setiap Lini Pendidikan Tinggi

Muspimnas Perempuan Bangsa PKB Digelar, Laila Mufidah Instruksikan Kader Surabaya Tancap Gas Perkuat Akar Rumput

Apresiasi dan pengawalan Reni terhadap dunia riset di Surabaya bergerak merata, lintas institusi, diantaranya:

Universitas 45 Surabaya, didorong penuh untuk terus mendongkrak Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi bagi anak muda lokal.

Universitas Terbuka (UT) Surabaya, diapresiasi atas sistem pendidikan jarak jauh modern yang memutus batasan geografis para pembelajar.

Kolaborasi BRIN, sebagai mitra Komisi X, Reni berkomitmen memastikan anggaran riset dan teknologi terserap tepat guna untuk mendukung inovasi akar rumput.

Kota Surabaya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat riset yang disegani di Asia Tenggara. Namun, pesan kuat yang dibawa dari Surabaya ke Gedung DPR RI sangat jelas: transformasi riset dan teknologi nasional harus selalu dimulai dengan memanusiakan para manusianya para dosen, peneliti, dan pengajar yang menyalakan lilin ilmu pengetahuan disudut ruang-ruang kelas. (Hasan N Rahmad)

Korupsi Anggaran Pakan Rp 10,2 Miliar, Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Ditahan Kejati Jatim