Nasional
Beranda » Index Berita » Menghidupkan Kembali Kompas Trisakti di Tengah Badai Zaman

Menghidupkan Kembali Kompas Trisakti di Tengah Badai Zaman

Ir Soekarno (foto: *Instagram)

JAKARTA, (JURNALBERITA.ID) – Di tengah riuh rendahnya dinamika politik nasional, bulan Juni selalu menyisakan ruang khusus bagi ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), momen yang karib disebut “Bulan Bung Karno” ini bukan sekadar rutinitas kalender teoretis, melainkan sebuah alarm keras untuk kembali menengok akar perjuangan bangsa.

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam peringatan Hari Lahir ke-125 Bung Karno baru-baru ini, melemparkan refleksi filosofis yang tajam. Ia tidak hanya mengajak publik bernostalgia dengan heroisme masa lalu, tetapi langsung menukik pada persoalan riil yang sedang dihadapi masyarakat hari ini.

Alarm Penjajahan Gaya Baru

Bagi Hasto, ajaran Bung Karno adalah instrumen pembebasan. Ia mengingatkan bahwa esensi dari pemikiran Proklamator RI tersebut adalah memerdekakan rakyat marhaen dari segala bentuk penindasan, baik di sektor politik, ekonomi, maupun kebudayaan.

Tiga ‘Trah Banteng’ Surabaya Tancap Gas Masuk Arena Politik

“Penindasan harus dihapuskan agar ada keadilan sosial,” tegas Hasto.

Ia secara gamblang menghubungkan melemahnya nilai tukar rupiah, carut-marut tata kelola negara, hingga maraknya praktik korupsi sebagai indikator nyata dari pudarnya supremasi hukum.

Tanpa hukum yang berkeadilan, Indonesia dinilai rentan terjebak dalam “penjajahan gaya baru” sebuah kondisi di mana kekayaan bangsa digerogoti dari dalam oleh sistem yang pincang.

Trisakti Sebagai Navigasi Krisis

Di tengah situasi global dan domestik yang tidak menentu, Hasto menawarkan kembali ajaran Trisakti Bung Karno sebagai kompas penunjuk arah

“Menyemai Kedisiplinan Merajut Kedekatan” Kiprah Ipda Onny Adi Anugrah di Jantung Kota Pacitan

Berdaulat di bidang politik, dengan menolak segala bentuk intervensi yang merugikan kedaulatan rakyat.

Berdikari di bidang ekonomi, yakni membangun kekuatan pangan dan industri lokal agar tidak bergantung pada asing.

Berkepribadian dalam kebudayaan, selalu menjaga identitas dan etika luhur bangsa di tengah gempuran modernitas.

Trisakti, dalam pandangan PDIP, bukan sekadar jargon politik pemilu, melainkan peta jalan (roadmap) kebudayaan untuk melawan sistem ekonomi-politik yang menyengsarakan rakyat kecil.

Dari Refleksi Menuju Aksi Nyata

Pesan Sederhana Anas Karno “Melayani dengan Hati, Merawat Harapan Warga”

Bulan Juni memuat tiga momentum krusial: lahirnya Pancasila (1 Juni), lahirnya Bung Karno (6 Juni), dan wafatnya Sang Proklamator (21 Juni).

Hasto menekankan bahwa rangkaian tanggal ini harus dimaknai sebagai satu kesatuan spiritual dan ideologis.Ia mengajak seluruh kader partai dan elemen bangsa untuk tidak mematikan api pemikiran Soekarno.

Refleksi atas wafatnya Bung Karno harus dijadikan bahan bakar untuk melahirkan gagasan-gagasan progresif yang berpihak pada kemanusiaan dan welas asih.Pada akhirnya, Bulan Bung Karno tahun ini menjadi sebuah gugatan terbuka.

Ketika hukum mulai kehilangan taringnya dan keadilan sosial terasa kian menjauh, pemikiran Bung Karno hadir bukan sebagai masa lalu yang berdebu, melainkan sebagai jawaban masa depan yang mendesak untuk diwujudkan kembali. (Hasan N Rahmad)