Politik
Beranda » Index Berita » Budi Leksono: Ketika Beasiswa PIP Memutus Rantai Putus Sekolah di Surabaya

Budi Leksono: Ketika Beasiswa PIP Memutus Rantai Putus Sekolah di Surabaya

Budi Leksono Ketua Fraksi PDIP sekaligus anggota Komisi B DPRD Surabaya agenda sosialisasi Program Indonesia Pintar (PIP) aspirasi Puti Guntur Soekarno di jalan Jepara Surabaya (foto: *dokumen)

SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Riuh rendah suara ibu-ibu sudah terdengar sejak pagi di sekitar Gedung Kartini, Jalan Jepara, Surabaya. Di tangan mereka, tergenggam erat berkas-berkas administratif yang lusuh namun dijaga setengah mati agar tidak lecek.

Hari itu bukan sekadar pertemuan warga biasa, melainkan hari di mana secercah harapan bagi masa depan anak-anak mereka resmi diserahkan melalui sosialisasi Program Indonesia Pintar (PIP).

Di tengah kerumunan, tampak Budi Leksono, anggota DPRD Kota Surabaya yang akrab disapa Abah Buleks.

Ketua Fraksi PDIP yang juga sebagai anggota Komisi B DPRD Surabaya Budi Leksono saat melakukan agenda sosialisasi Program Indonesia Pintar (PIP) aspirasi Puti Guntur Soekarno di jalan Jepara Surabaya (foto: *dokumen)

Politisi PDI Perjuangan ini hadir bukan untuk memberikan pidato politik yang kaku, melainkan turun langsung mengawal distribusi sertifikat Program Indonesia Pintar (PIP).

Sebuah program beasiswa nasional yang kali ini dibawa masuk ke perkampungan padat Surabaya melalui jalur aspirasi anggota DPR RI Komisi X, Puti Guntur Soekarno.

Mengetuk Pintu Jalan Porong sebagai Ruang Aspirasi

Untuk kawasan seperti Kelurahan Jepara di Kecamatan Bubutan, bantuan pendidikan semacam ini bukan sekadar tambahan uang saku. Bagi para orang tua yang mayoritas bekerja sebagai pekerja informal, buruh harian, dan pedagang kecil, selembar sertifikat PIP adalah jaminan bahwa anak-anak mereka bisa terus melangkah ke sekolah tanpa bayang-bayang tunggakan administrasi.

Menembus Batas Kuota Reguler

Selama ini, banyak warga mengeluhkan ketatnya sistem kuota reguler di sekolah. Tidak sedikit keluarga prasejahtera yang “tercecer” dan tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), sehingga anak-anak mereka terancam putus sekolah. Celah inilah yang coba ditambal oleh Budi Leksono beserta tim relawannya di lapangan.

Melalui jalur aspirasi kedewanan, mereka menjemput bola, mendatangi gang-gang sempit di Jalan Jepara, dan menjaring langsung anak-anak yang benar-benar membutuhkan bantuan.

“Kami tidak ingin ada anak Surabaya, khususnya di wilayah Jepara ini, yang harus berhenti sekolah hanya karena persoalan biaya belanja buku atau seragam. Pendidikan adalah hak mutlak, dan tugas kami adalah memastikan negara hadir di tengah mereka,” ujar Abah Buleks di sela-sela kegiatannya menyapa warga.

Menjaga Nadi Inovasi dari Kota Pahlawan: Riset Berkualitas Bukan Proyek Sulap

Suasana haru sempat pecah saat beberapa ibu menerima langsung sertifikat pencairan dana untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK tersebut.

Dana bantuan ini dipastikan akan langsung masuk ke rekening tabungan simpanan pelajar (SimPel) masing-masing siswa tanpa potongan sepeser pun.Bagi warga setempat, kehadiran legislator yang mau turun langsung ke posko-posko kampung seperti Posko PDIP Jepara III memberikan rasa aman.

“Bantuan ini Jangan sampai digunakan untuk kepentingan orang tua. Bantuan ini untuk anak, seperti seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah lainnya,” tegas Abah Buleks.

Warga jalan Jepara Surabaya saat mengikuti acara sosialisasi Program Indonesia Pintar (PIP) (foto: * dokumen)

Warga tidak lagi merasa kebingungan menghadapi birokrasi pencairan bank yang sering kali dianggap rumit oleh masyarakat awam.

Ia juga menambahkan, Beasiswa PIP ini bukan sekadar janji, karena sudah banyak warga yang merasakan manfaat PIP ini.

Ketika Penertiban Memicu Ketakutan Usaha

Melalui sinergi vertikal antara kader di tingkat kota hingga DPR RI, ratusan anak di Jalan Jepara kini bisa kembali menatap tahun ajaran baru dengan kepala tegak.

Di tengah modernisasi Kota Surabaya, Jalan Jepara hari itu menjadi saksi bahwa gotong royong politik masih mampu melahirkan senyuman di wajah anak-anak penerus bangsa. (Hasan N Rahmad)