SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menembus gang sempit di salah satu kawasan padat penduduk Kota Surabaya. Namun, keriuhan sudah terdengar dari sebuah balai RT.
Puluhan ibu menggendong balita, mengantre dengan tertib. Di sudut ruangan, sebuah timbangan digital baru menjadi pusat perhatian.Aparatur kampung menyebutnya sebagai “senjata baru” melawan stunting.
Kehadiran alat modern ini tidak lepas dari kawalan Anas Karno, legislator PDI Perjuangan yang kini menjabat sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya.
Bagi Anas, benteng pertahanan kesehatan terbaik sebuah kota tidak berada di gedung-gedung rumah sakit mewah, melainkan di lini paling depan.
Menutup celah stunting dengan data akurat selama bertahun-tahun, kader kesehatan di tingkat RT/RW harus bekerja dengan alat seadanya. Timbangan gantung kain yang kerap bergoyang sering kali membuat pencatatan berat badan bayi menjadi kurang akurat.
“Mencegah stunting itu harus dimulai dari data yang presisi,” ujar Anas dalam sebuah rembuk warga.
Bergerak cepat, Anas menginisiasi penyaluran timbangan bayi digital ke berbagai Posyandu kampung.
Bagi para kader, bantuan ini bukan sekadar barang elektronik baru. Ini adalah kepastian bahwa tumbuh kembang anak-anak di kampung mereka terpantau dengan standar medis yang tepat.
Perang total melawan DBD sebelum hujan tiba masalah kesehatan kampung tidak berhenti pada gizi anak. Memasuki pertengahan tahun 2026, ancaman penyakit musiman seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai membayangi akibat perubahan cuaca yang tidak menentu.
Anas memahami bahwa fogging (pengasapan) hanyalah solusi jangka pendek yang temporer. Kunci utamanya adalah kebersihan lingkungan secara menyeluruh.
Lewat posisinya di Badan Anggaran (Banggar) DPRD Surabaya, ia terus mendesak pemerintah kota untuk mempercepat distribusi sarana kebersihan.
“Gerobak sampah, bak sampah yang layak, hingga kelancaran saluran air harus diprioritaskan. Jangan tunggu ada korban baru kita bergerak,” tegasnya.
Ia bahkan menyoroti hal-hal mikro yang sering luput dari perhatian, seperti kebiasaan warga membuang kasur atau sofa bekas ke saluran air karena bingung ke mana harus membuangnya.
Anas mendesak pihak kelurahan untuk aktif menjemput sampah-sampah besar tersebut agar tidak menjadi sarang nyamuk dan penyumbat saluran.
Memotong jalur birokrasi kesehatan, di balik dedikasinya pada sistem pencegahan, Anas juga dikenal sebagai “hotline” darurat bagi warga yang terjepit masalah biaya pengobatan.
Ketika jaminan kesehatan macet atau warga miskin kesulitan mendapat kamar perawatan, ponselnya kerap berdering di tengah malam.
Bagi Anas, mengawal warga ke rumah sakit dan memastikan mereka mendapatkan hak BPJS tanpa dipersulit adalah bagian dari tugas kemanusiaan yang melekat pada mandatnya sebagai wakil rakyat.
Kini, dengan kewenangan baru di Komisi A, fokus Anas bertambah pada optimalisasi Dana Kelurahan (Dakel). Ia ingin memastikan anggaran tersebut benar-benar terserap untuk memperkuat insentif kader kesehatan, membiayai Satgas Kampung, dan membangun sanitasi yang sehat.Dari gang-gang sempit Surabaya.
Kota yang hebat adalah kota yang mampu menjaga warga paling rentannya tetap sehat dan tersenyum. (Hasan N Rahmad/JB01)
