SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Menatap Surabaya hari ini adalah melihat sebuah kontradiksi yang harmonis. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah, namun di bawah bayang-bayangnya, kampung-kampung tua tetap hidup dengan geliat ekonomi dan tawa bocah-bocah yang berlarian di gang sempit nan bersih.
Harmoni ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari keteguhan prinsip seorang pria yang menghabiskan lebih dari separuh abad usianya untuk satu misi, menjaga jiwa Kota Pahlawan.Pria itu adalah Prof. Ir. Johan Silas.
Meski sang begawan tata kota telah berpulang pada Juni 2026 lalu, warisan pemikiran dan denyut nadinya justru semakin terasa nyata di setiap jengkal kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Di saat kota-kota besar lain di dunia memilih jalan pintas berupa penggusuran massal demi estetika modernis, Johan Silas justru meyakinkan tujuh generasi Wali Kota Surabaya bahwa masa depan kota ini ada pada keselamatan kaum miskin kota.
Romantisme “Kota Kampung” yang Mendunia
Bagi Johan Silas, kampung bukanlah simbol kemiskinan yang harus dilenyapkan dari peta tata ruang.
“Kampung adalah tulang punggung Surabaya,” begitu salah satu pameo terkenalnya yang sering dikutip para perencana kota. Gagasan besar inilah yang melahirkan Kampung Improvement Program (KIP) atau Program Perbaikan Kampung yang fenomenal.Melalui KIP, Johan Silas mengubah cara pandang dunia terhadap pembangunan urban.
Ali-alih meratakan rumah warga dengan buldoser, ia membawa Pemkot Surabaya masuk ke gang-gang sempit untuk membangun saluran air bersih, memperbaiki sanitasi, dan mempaping jalan setapak tepat di depan pintu rumah warga.
Pendekatan radikal yang memanusiakan manusia ini tidak hanya berhasil menekan angka kekumuhan, tetapi juga melambungkan nama Surabaya di panggung internasional.
Puncaknya, pada tahun 2005, gagasan ‘Kota Kampung’ ini diganjar penghargaan bergengsi UN-Habitat Scroll of Honour Award sebuah pengakuan dunia bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan air mata rakyat kecil.
Tangan Dingin di Balik Tujuh Wali Kota
Pengaruh Johan Silas di Balai Kota Surabaya layaknya benang merah yang tidak pernah putus. Sejak era Wali Kota Raden Soekotjo pada tahun 1960-an hingga era Tri Rismaharini, masukan teknis dan filosofis dari pendiri Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini selalu menjadi kompas utama.
Hubungan ideologisnya dengan Tri Rismaharini bahkan menjadi salah satu babak paling ikonik dalam sejarah pembangunan Surabaya.
Risma, yang merupakan anak didik filosofisnya, menerjemahkan visi humanis Johan Silas ke dalam kebijakan konkret yang masif, pembangunan taman-taman kota yang asri, trotoar ramah disabilitas, hingga pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat RT/RW.
Johan Silas adalah mentor, jangkar moral, sekaligus kritikus paling jujur bagi para pemimpin Surabaya.
Tak hanya bicara soal infrastruktur fisik, Johan Silas adalah benteng pertahanan bagi sejarah kota. Sebagai bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), ia konsisten berjuang menyelamatkan lebih dari 200 situs bersejarah dari cengkeraman industrialisasi yang serakah.
Bagi beliau, sebuah kota tanpa sejarah adalah kota yang amnesia. Keseimbangan antara menghidupkan bangunan kolonial kuno dan membangun pusat bisnis modern adalah salah satu keahlian terbaiknya.
Kini, di pertengahan tahun 2026, Pemkot Surabaya memikul tanggung jawab besar untuk menjaga warisan tersebut. Dalam berbagai kesempatan resmi, jajaran pemerintah menegaskan bahwa cetak biru pembangunan Surabaya ke depan akan tetap setia pada garis-garis yang telah digoreskan oleh sang arsitek.Surabaya memang telah kehilangan raga sang maestro.
Namun, setiap kali genangan air surut lebih cepat di kala hujan, setiap kali sebuah kampung memenangkan lomba kebersihan, dan setiap kali masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan hak hunian yang layak, di sanalah gagasan besar Johan Silas tetap hidup dan abadi. Beliau tidak pernah benar-benar pergi, ia telah melebur menjadi jiwa Kota Surabaya. (Hasan N Rahmad)
