MOJOKERTO, (JurnalBerita.id) Malam begitu dingin menggigit di kawasan Camp Mentari, Trawas, Mojokerto. Namun, bagi 308 pasang mata yang berdiri tegak mengitari kobaran api, dingin seolah menguap begitu saja.
Di bawah langit malam akhir Oktober 2026, yel-yel membakar semangat berkumandang memecah kesunyian pegunungan. Mereka adalah para peserta Diklat Kader Pratama yang diselenggarakan oleh Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Surabaya.
Selama tiga hari penuh, sejak 23 hingga 25 Oktober 2026, ratusan pemuda dari berbagai penjuru Jawa Timur ini melepaskan atribut keseharian mereka. Tidak ada sekat wilayah.
Sebanyak 12 MPC kabupaten dan kota mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Tulungagung, Tuban, hingga Kota Batu melebur menjadi satu di bawah bendera loreng oranye-hitam.
Mengusung tema “Meneguhkan Ideologi Pancasila, Membangun Jiwa Korsa, Mewujudkan Kader yang Disiplin dan Berintegritas”, diklat ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul organisasi biasa.
Di sinilah fisik mereka ditempa, mental mereka diuji, dan cara berpikir mereka diselaraskan.
Sejak pagi buta, kedisiplinan militer diterapkan. Di bawah bimbingan para instruktur, para peserta melatih fisik dan ketahanan.
Namun, bukan otot saja yang diperkuat, melainkan juga isi kepala. Ruang-ruang kelas dipenuhi dengan diskusi interaktif mengenai pendalaman wawasan kebangsaan dan penguatan ideologi Pancasila di era modern. Ratusan kader ini diajak untuk memahami kembali bahwa Pancasila bukan sekadar teks hafalan, melainkan prinsip hidup yang harus dibela dan diimplementasikan di tengah masyarakat.
Momen paling sakral terjadi saat prosesi Api Kebangsaan. Di bawah temaram cahaya api yang berkobar, jiwa korsa rasa senasib sepenanggungan benar-benar diikat. Rasa lelah akibat latihan fisik berat luluh lantak, digantikan oleh rasa bangga menjadi bagian dari garis depan pengawal ideologi bangsa.
Sekretaris MPC Pemuda Pancasila Kota Surabaya, H. Baso Juherman, menegaskan bahwa diklat ini merupakan investasi jangka panjang organisasi.
“Dari bumi perkemahan Trawas inilah, cikal bakal pemimpin masa depan Pemuda Pancasila di Jawa Timur dilahirkan,” tegas H. Baso.
Ia berharap, kualitas kader-kader baru ini diharapkan mampu mengubah stigma negatif dan membawa organisasi menjadi lebih modern, berintegritas, serta dicintai masyarakat.
Ketika rombongan peserta akhirnya berkemas pulang pada Minggu siang, wajah-wajah lelah itu tidak lagi sama. Ada binar ketegasan baru di mata mereka.
Diklat Pratama mungkin telah usai, namun langkah mereka baru saja dimulai. Ujian sesungguhnya telah menanti di daerah masing-masing, membumikan nilai Pancasila dan bersiap melangkah ke jenjang berikutnya, Diklat Kader Madya dan Utama. Pemuda Pancasila Surabaya telah membuktikan, bahwa ketangguhan tidak datang secara instan, melainkan ditempa lewat disiplin dan air mata. (Hasan N Rahmad)

