Nasional
Beranda » Index Berita » Reni Astuti: Secanggih Apa Pun Teknologinya, AI Adalah Alat Bantu Bukan Pengganti Nalar

Reni Astuti: Secanggih Apa Pun Teknologinya, AI Adalah Alat Bantu Bukan Pengganti Nalar

Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM., serta Pakar AI sekaligus Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, S.Si., M.T., dan Inyong Maulana (foto: HNR'71

SURABAYA, (Jurnal berita.id) – Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital kini menjadi pilar utama dalam mentransformasi profesionalisme di berbagai sektor kerja. Kendati mampu mendongkrak efisiensi dan produktivitas secara radikal, tantangan terbesar adopsi AI di Indonesia bukan lagi sekadar ketersediaan perangkat, melainkan kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan etika penggunaannya.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi strategis pemanfaatan teknologi AI untuk profesionalisme di Hotel Riich Palace, Surabaya, Sabtu (17/10/2026)). Dua tokoh penting, yakni Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM., serta Pakar AI sekaligus Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, S.Si., M.T., memberikan pandangan kritis terkait bagaimana para profesional seharusnya bersikap di era kecerdasan buatan.

AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Nalar Kritis

Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi AI berkembang, posisinya harus tetap diletakkan sebagai instrumen pendukung etos kerja profesional, bukan penentu mutlak hasil akhir pekerjaan. Dalam konteks profesionalisme pendidik dan pelayanan publik misalnya, sentuhan manusia dan pemikiran kritis mutlak dipertahankan.

“Dalam konteks kecerdasan buatan, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti pertimbangan profesional. Para profesional dan anak didik kita harus memiliki kecakapan digital sekaligus etika digital. Kita ingin mereka mampu memanfaatkan teknologi, tetapi tetap berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab,” tegas Reni Astuti.

DPRD Surabaya Kawal Relokasi PKL Kalijudan ke SWK Baru, Antisipasi Pungli dan Jamin Keberlanjutan Usaha

Reni menilai transformasi profesionalisme berbasis digital ini menuntut adanya pelatihan berkelanjutan agar tidak terjadi pemanfaatan teknologi yang bias atau merusak nilai otentik dari profesi itu sendiri.

Menjembatani Kesenjangan Literasi Data

Senada dengan hal tersebut, Profesor Riset dari Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Prof. Hanif Fakhrurroja, menyoroti bahwa kendala mendasar para profesional di lapangan dalam mengadopsi sistem cerdas termasuk dalam ekosistem industri dan pertanian modern (smart farming) adalah kemampuan menginterpretasikan keluaran (output) dari AI itu sendiri.

“Masalahnya bukan sekadar profesional atau pekerja memiliki atau tidak memiliki perangkat teknologi, tetapi apakah mereka mampu memahami data, mengoperasikan alat, menginterpretasikan data, dan menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan,” jelas Prof. Hanif Fakhrurroja.

Ia menambahkan bahwa integrasi antara AI, Big Data Analytics, dan Internet of Things (IoT) dirancang untuk membantu para profesional mengambil keputusan secara otomatis dan presisi. Namun, ekosistem inovasi ini hanya akan berdampak optimal jika SDM yang mengoperasikannya memiliki kompetensi data yang kuat sehingga mampu hidup berdampingan secara produktif dengan AI.

Cak Yebe Minta Pengurus RT/RW Berikan Salinan Usulan Musrenbang ke Dewan demi Percepat Pembangunan

Melalui kolaborasi regulasi yang etis dari parlemen dan riset teknologi terapan dari BRIN, Indonesia diharapkan tidak hanya sekadar menjadi pasar atau konsumen pengguna AI, melainkan mampu mencetak para profesional digital yang kompetitif di kancah global. (Hasan N Rahmad)