SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Idul Adha selalu membawa gaung yang sama, satu takbir yang berkumandang, aroma pekat daging yang dibakar, dan senyum di wajah para penerima kantong kresek berisi daging kurban.
Namun, di balik ritual yang serupa, pelaksanaan ibadah kurban di Indonesia menyajikan dua potret realitas yang bertolak belakang antara sesaknya beton perkotaan dan tenangnya hamparan pedesaan.Ini adalah kisah tentang ruang, ekonomi, dan bagaimana modernisasi perlahan mengikis cara lama perkotaan, sementara di ujung pedesaan tetap bertahan dengan urat nadi gotong-royongnya.
Di tengah megahnya kota metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya, merayakan Idul Adha adalah seni menaklukkan keterbatasan ruang. Ketiadaan lahan terbuka memaksa warga di pemukiman padat menyembelih hewan kurban langsung di dalam gang-gang sempit.
Pemandangan kontras pun tercipta, siluet gedung pencakar langit menjadi latar belakang riuhnya warga yang bahu-membahu menjatuhkan sapi di atas aspal jalanan kampung.
Pemotongan kurban mandiri di area sempit menyisakan masalah kebersihan lingkungan yang pelik. Saluran air kota kerap memerah akibat aliran darah hewan kurban, memicu bau tak sedap dan potensi penyebaran bakteri di tengah pemukiman padat.
Demi menjaga biosekuriti dan higienitas kota, pemerintah kian agresif membatasi pemotongan mandiri. Masyarakat perkotaan kini perlahan bermigrasi memanfaatkan fasilitas Rumah Potong Hewan (RPH) yang lebih bersih, cepat, dan ramah lingkungan.
Kurban di desa lebih utama jika berorientasi pada pemberdayaan peternak lokal dan pemenuhan gizi masyarakat yang jarang mengonsumsi daging. Sebaliknya, kurban di kota lebih efektif untuk menjamin distribusi yang merata di pemukiman padat atau kantung kemiskinan perkotaan.
(Hasan N Rahmad/hnr71@gmail.com)
