Terkini
Beranda » Berita » Keadilan Sosial PR Yang Belum Usai, Potret Dibalik Lahirnya Pancasila

Keadilan Sosial PR Yang Belum Usai, Potret Dibalik Lahirnya Pancasila

ilustrasi (*istimewa)

SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Di sudut sebuah ruang kelas sekolah dasar di pinggiran kota, belasan anak tampak lantang melafalkan lima butir kalimat. Tangan mereka tegak bersedekap, mata menatap lurus ke arah gambar burung Garuda yang tergantung kokoh di atas papan tulis. Pemandangan ini rutin berulang, terutama setiap kali kalender mendekati tanggal 1 Juni Hari Lahir Pancasila.

Tentu saja, merayakan Hari Lahir Pancasila juga berarti berani bercermin dengan jujur. Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bangsa ini. Kesenjangan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata di pelosok, hingga isu penegakan hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, adalah riak-riak yang harus terus diperbaiki.

Memaknai hari bersejarah ini memaksa para pemangku kebijakan, pelaku industri, hingga masyarakat biasa untuk bertanya pada diri sendiri.  Apakah langkah yang saya ambil hari ini sudah adil bagi orang lain?

Pancasila tidak boleh menjadi fosil sejarah yang hanya dibicarakan di ruang-ruang seminar atau buku teks kewarganegaraan. Ia harus dinamis.

Menghidupkan Pancasila di era modern adalah dengan cara, tidak melakukan perundungan (cyberbullying) dan menghormati privasi orang lain (Wujud Sila ke-2 dan ke-3).

Mengais Rezeki Rp733, Cerita Ujung Peluit di Balik Digitalisasi HJKS 733

Menyelesaikan perselisihan di lingkungan terkecil (RT, tempat kerja, atau kampus) dengan musyawarah, bukan dengan otot atau ego (Wujud Sila ke-4).

Mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, misalnya dengan membeli produk UMKM tetangga sendiri (Wujud Sila ke-5).

Pada akhirnya, Garuda yang bertengger di dinding-dinding kantor dan sekolah tidak akan bermakna apa-apa jika ia tidak “terbang” dan hinggap di dalam perilaku kita. Hari Lahir Pancasila adalah momentum untuk memastikan bahwa burung Garuda itu tetap bernyawa, bernapas, dan mengepakkan sayapnya lewat kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Namun, di era digital ketika sekat antarmanusia kian pudar oleh algoritma dan polarisasi media sosial, muncul sebuah pertanyaan mendasar. Apakah Pancasila masih hidup di dalam dada kita, atau ia telah menyusut sekadar menjadi materi hafalan demi nilai ujian?

Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni bukanlah sekadar ritual seremonial, upacara bendera, atau tanggal merah di kalender. Momen ini adalah alarm tahunan untuk menguji sejauh mana kita telah “membumikan” ideologi bangsa ini dalam gerak nadi sehari-hari.

HJKS ke-733: Ketua DPRD Surabaya Ingatkan Infrastruktur Megah Tak Cukup Tanpa Kesejahteraan Warga

Titik Temu di Tengah Badai Perbedaan

Merujuk pada sejarahnya pada 1945, Bung Karno merumuskan Pancasila bukan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai philosophische grondslag (dasar filsafat) atau weltanschauung (pandangan dunia). Pancasila lahir sebagai payung besar, sebuah titik temu (kalimatun sawa) yang menyatukan ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam keyakinan di Indonesia.

Memaknai Pancasila di masa kini berarti merawat tenunan toleransi tersebut. Di tengah maraknya fenomena saling sikut di media sosial, membumikan Pancasila bisa dimulai dari hal paling sederhana, menahan jempol untuk tidak menyebarkan hoaks, menghargai ruang ibadah sesama, dan menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk memusuhi.

Jika diperas menjadi satu esensi, Bung Karno pernah menyebut bahwa sejatinya jiwa dari Pancasila adalah Gotong Royong.

Di tengah badai individualisme perkotaan, nilai gotong royong ini sedang diuji. Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, menuntut aksi nyata yang melampaui batas ego kita. Kita melihat Pancasila bekerja bukan saat pidato politik digaungkan, melainkan saat para relawan turun ke daerah bencana, saat tetangga saling berbagi makanan tanpa melihat latar belakang suku, atau ketika seorang konten kreator menggalang dana untuk pengobatan anak yang tidak mampu.

Menembus Batas Birokrasi, Ikhtiar BB Labkesmas Banjarbaru Membawa Layanan Kesehatan Lebih Dekat dan Cepat

Itulah Pancasila yang hidup. Ia bergerak tanpa seragam, meraba nurani, dan hadir dalam bentuk empati sosial.

(Hasan N Rahmad/JB01)