SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Angin laut berembus kencang di kawasan pesisir Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Di balik pagar yang kini sering kali tertutup rapat, berdiri sebuah bangunan megah berlantai tiga di atas lahan seluas 3 hektare. Ironisnya, alih-alih diramaikan oleh deru peluru para atlet, kompleks olahraga senilai Rp45 miliar hingga ini justru dikepung oleh ilalang tinggi dan sepi dari aktivitas publik.
Lapangan Tembak Kedung Cowek kini berada di persimpangan jalan, memicu kritik tajam sebagai proyek gagal sekaligus menaruh harapan baru lewat wacana alih fungsi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tipe C.
Sejak awal pembangunannya pada era Wali Kota Tri Rismaharini, proyek ini diproyeksikan menjadi arena menembak berskala internasional demi menunjang wisata pesisir Surabaya Utara.
Namun, setelah pembangunannya tuntas, lapangan tembak ini dinilai minim fungsi dan dianggap sebagai pemborosan anggaran oleh publik karena fasilitas serupa milik TNI/Polri sebenarnya sudah memadai di Kota Pahlawan.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, takdir bangunan ini sempat berubah. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi menyulapnya menjadi Rumah Sakit Lapangan Tembak (RSLT).
Dengan kapasitas mencapai lebih dari 400 tempat tidur, gedung ini sempat menjadi pahlawan kemanusiaan yang menyelamatkan ratusan warga saat rumah sakit perkotaan mengalami kolaps.
Namun, seiring dicabutnya status PPKM dan rampungnya evakuasi alat medis, kompleks megah ini kembali merana. Kondisinya yang terbengkalai pasca-pandemi memicu desakan dari legislatif agar aset bernilai fantastis tersebut tidak dibiarkan menjadi “monumen mati” yang terbuang sia-sia.
Kritik tajam dari masyarakat dan pengamat anggaran akhirnya melahirkan opsi refungsi yang dinilai jauh lebih bermanfaat. Dibandingkan membiarkan bangunan rusak dimakan waktu, muncul dorongan kuat dari DPRD Surabaya untuk merenovasi total eks RSLT ini menjadi rumah sakit permanen Tipe C.
Langkah mempermak bangunan yang sudah ada dinilai para anggota dewan jauh lebih realistis, hemat anggaran, dan cepat selesai ketimbang Pemkot harus memaksakan proyek pembangunan rumah sakit baru di lokasi lain.
Rencana alih fungsi menjadi RS Kedung Cowek ini diproyeksikan untuk menjawab ketimpangan fasilitas kesehatan, sekaligus mendekatkan akses layanan medis berkualitas bagi warga di wilayah Surabaya Utara.
Bagaimana dengan nasib olahraga menembak di Surabaya? Pemkot berencana memindahkan dan mengintegrasikan fasilitas latihan menembak ke dalam kompleks olahraga yang lebih hidup di area Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya Barat.
Kini, masyarakat Surabaya Utara hanya bisa menunggu komitmen Pemkot Surabaya untuk segera mengeksekusi cetak biru renovasi tersebut.
Warga berharap, pemandangan ilalang liar dan gerbang berkarat di Kedung Cowek bisa segera berganti menjadi hilir mudik ambulans dan senyum ramah para tenaga medis yang melayani masyarakat. (Hasan N Rahmad)
