News
Beranda » Index Berita » Misteri di Balik Hilangnya Ribuan Jarum Suntik di Parit Tol Juanda: Tuduhan Sabotase hingga Perburuan Pelaku

Misteri di Balik Hilangnya Ribuan Jarum Suntik di Parit Tol Juanda: Tuduhan Sabotase hingga Perburuan Pelaku

Barang bukti limbah medis spuit di exit tol Tambak Sumur (foto: *istimewa)

SIDOARJO, (JurnalBerita.id) – Sebuah rekaman video amatir mendadak mengguncang jagat maya warga Surabaya dan Sidoarjo awal pekan ini. Parit tenang di kawasan pintu keluar (exit) Tol Tambak Sumur, jalur arteri menuju Bandara Internasional Juanda, mendadak berubah menjadi area pembuangan beracun.

Sedikitnya 10 kantong plastik jumbo dan karung beras ditemukan menumpuk di dalam saluran air. Di dalamnya tersimpan pemandangan mengerikan, ribuan jarum suntik (spuit) bekas pakai yang masih menyatu dengan tabungnya, botol kaca wadah obat, vial KB, kain kasa, kapas, hingga material medis yang masih menyisakan bercak menyerupai darah segar.

Namun, plot cerita misteri lingkungan ini memanas dengan cepat. Saat tim gabungan bergegas melakukan tindak lanjut, ribuan limbah medis berbahaya tersebut mendadak hilang tanpa jejak dari lokasi penemuan.Sorotan Mengarah ke RSUD Baru, Pemkot Angkat Bicara

Kepanikan publik sempat memuncak ketika sobekan kantong kertas pembungkus obat berlogo RSUD Eka Candrarini (EC) rumah sakit umum daerah baru milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ditemukan terselip di antara tumpukan limbah B3 tersebut.

Tidak ingin rumor liar bergulir menjadi bola salju, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung mengambil tindakan tegas. Pada Rabu (26/8/2026), hasil investigasi internal diterbitkan untuk membersihkan nama institusi pemerintah.

Hotel Horison Arcadia Heritage Surabaya Gelar Acara “Fun Coloring & Tourwagen Trip”

“Kami tidak pernah melakukan pengadaan atau menggunakan jarum suntik dengan merek yang ditemukan di lokasi tersebut,” tegas Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya.

Berdasarkan pengecekan fisik oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, ditemukan fakta kunci. Perbedaan merek alat  RSUD Eka Candrarini secara eksklusif menggunakan spuit merek Nipro, sedangkan ribuan jarum suntik liar yang dibuang di parit tersebut merupakan merek Onemed.

Kondisi fisik alat sesuai prosedur medis RSUD EC mewajibkan jarum suntik langsung dipatahkan/dipisah dan dimasukkan ke dalam safety box kuning (tanpa ditutup kembali atau recapping) demi keselamatan kerja.

Sementara limbah di tol ditemukan dalam kondisi jarum dan tabung plastik masih utuh menyatu. Bungkus kertas obat, atribut kertas berlogo RSUD EC yang ditemukan hanyalah kantong kertas ramah lingkungan untuk obat rawat jalan pasien.

Logikanya, kantong sekecil itu tidak akan mungkin muat menampung ribuan jarum suntik berukuran besar. Diduga kuat, kertas tersebut dibuang secara terpisah oleh mantan pasien atau sengaja dicampur oleh pelaku untuk mengelabui petugas.

PERADI SAI Surabaya Jemput Bola, Berikan Pendampingan Hukum Gratis bagi Warga

Misteri Hilangnya Barang Bukti Secara Kilat

Keanehan kasus ini mencapai puncaknya pada Rabu pagi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengungkapkan bahwa dirinya memantau lokasi pembuangan di perbatasan Surabaya-Sidoarjo tersebut hingga Selasa (25/08/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Namun, saat fajar menyingsing keesokan harinya, seluruh kantong plastik berisi material infeksius itu telah raib.

Informasi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo menyebutkan, sempat terlihat dua orang misterius yang tidak diketahui identitasnya mengangkut kembali limbah tersebut menggunakan kendaraan.

Kondisi hilangnya barang bukti secara mendadak ini memicu spekulasi kuat di kalangan netizen dan pengamat bahwa ada upaya sabotase atau kepanikan dari pihak pembuang yang berusaha menghapus jejak kejahatan lingkungan mereka.

Permudah Investor, Pemkot Surabaya Luncurkan Layanan Klinik Investasi Berbasis AI

Sistem Festronik yang Mustahil Ditembus

DPRD Kota Surabaya melalui Komisi D juga bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak ke fasilitas pembuangan RSUD Eka Candrarini.

Anggota Komisi D, dr. Michael Leksodimulyo, memastikan seluruh alur pembuangan limbah B3 milik Pemkot telah sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP). Rumah sakit milik Pemkot Surabaya mengikat kontrak resmi dengan PT Wastec International untuk pengangkutan berkala.

Setiap kali limbah tajam diambil, ada proses penimbangan ketat, manifes digital, dan semuanya tercatat secara real-time di sistem Festronik Kementerian Lingkungan Hidup RI,” jelas dr. Michael.

Sistem pengawasan digital ini dinilai mustahil ditembus untuk aksi pembuangan liar di pinggir jalan tol.

Perburuan Pelaku: Sanksi Pidana Menanti

Kini, fokus penyelidikan bergeser ke arah klinik swasta, laboratorium mandiri, atau fasilitas kesehatan non-pemerintah di sekitar wilayah Surabaya dan Sidoarjo yang diduga tidak memiliki kerja sama resmi pengolahan limbah B3.

Pemkot Surabaya bersama DLH Surabaya, DLHK Sidoarjo, dan aparat penegak hukum (kepolisian) kini tengah memburu pelaku utama. Langkah awal dilakukan dengan melacak manifes pengadaan alat kesehatan merek terkait dan memeriksa kamera pengawas (CCTV) di sekitar gerbang tol Tambak Sumur untuk mengidentifikasi kendaraan pembawa limbah.

Sanksi tanpa kompromi telah disiapkan, jika terbukti ada fasilitas kesehatan yang sengaja membuang limbah infeksius ini secara sembarangan, pelaku tidak hanya menghadapi pencabutan izin operasional secara permanen, tetapi juga ancaman hukuman pidana penjara atas pelanggaran berat Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri medis bahwa manajemen limbah bukanlah perkara main-main yang bisa dibuang di tepi jalan saat malam hari. (Hasan N Rahmad)