SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Bagi sebagian orang, sepak bola adalah tentang taktik, angka, dan statistik di papan skor. Namun bagi Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, sepak bola adalah panggung pembelajaran hidup.
Di tengah demam Piala Dunia 2026 yang mulai memanas, pria yang akrab disapa Kaji Ipuk ini sudah menentukan arah kiblat dukungannya. Tim Nasional Portugal.
Pilihan ini bukan lahir karena kemegahan taktik Selecao das Quinas, melainkan karena magnet magis dari satu nama: Cristiano Ronaldo.
Di usianya yang telah menginjak 41 tahun usia di mana mayoritas pesepak bola sudah menikmati masa pensiun atau menjadi pelatih Ronaldo masih berdiri tegak di lapangan hijau.
Bagi Kaji Ipuk, mega bintang yang kini membela klub Al Nassr tersebut adalah personifikasi nyata dari frasa “menolak tua”.
“Saya senang Portugal karena ada Ronaldo. Siapa yang tak terpukau dengan caranya menaklukan tim lawan,” ujar Kaji Ipuk dengan mata berbinar, Selasa (9/6/2026).
“Entertain-nya di lapangan yang saya kagumi. Sangat menginspirasi,” imbuhnya.
Dari Tukang Kebun Menjadi Penakluk Dunia
Kekaguman politisi PDI Perjuangan ini kepada Ronaldo melampaui batas garis lapangan 2×45 menit. Ada sebuah narasi perjuangan hidup yang ia lihat paralel dengan semangat arek-arek Surabaya, kerja keras, konsistensi, dan ketegaran mental.
Ronaldo tidak lahir dengan sendok perak di mulutnya. Ia tumbuh dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya seorang tukang kebun dan penjaga alat olahraga, sementara ibunya menyambung hidup sebagai pembantu rumah tangga sekaligus tukang masak.
Namun, keterbatasan itu justru menjadi bahan bakar utama yang membawanya menaklukkan raksasa Eropa, mulai dari Manchester United, Real Madrid, hingga Juventus, lengkap dengan koleksi lima trofi Ballon d’Or.
“Saya salut dan ingin selalu melihat aksi hebat sang mega bintang. Saya yakin dia masih tampil baik. Terutama laga krusial, pengalaman dan kematangan dibutuhkan tim,” tambah Ipuk, menekankan pentingnya mentalitas seorang veteran di turnamen sebesar Piala Dunia.
Bagi Kaji Ipuk, kesempurnaan Ronaldo sebagai idola genap karena jiwa sosialnya. Di balik gelimang harta dan popularitas, Ronaldo tidak pernah lupa dari mana ia berasal.
Jejak kemanusiaannya terbentang dari membangun sekolah di Gaza hingga aksi legendarisnya mengangkat anak angkat saat tsunami menerjang Aceh puluhan tahun silam.
“Di tengah banyak penghargaan dan kekayaan, Ronaldo tetap peduli. Jiwa sosialnya tinggi,” puji Kaji Ipuk hangat.
Demam Piala Dunia di Kota Pahlawan
Guna menularkan energi positif dan daya juang sang mega bintang kepada warga Surabaya, Ketua Dewan Surabaya ini tidak ingin menikmati aksi Ronaldo sendirian. Ia bertekad untuk tidak melewatkan satu pun laga Portugal di fase grup.
Bahkan, sebuah rencana besar sedang disusun, menggelar acara nonton bareng (nobar) untuk memfasilitasi antusiasme pencinta sepak bola di Kota Pahlawan.
Laga pembuka Portugal melawan Kongo pada 18 Juni, disusul duel kontra Uzbekistan pada 24 Juni, hingga partai sengit melawan Kolombia pada 28 Juni mendatang akan menjadi malam-malam panjang di Surabaya.
Di sana, di bawah lampu proyektor nobar, Kaji Ipuk bersama warga Surabaya akan kembali saksi hidup, bagaimana seorang pria berusia 41 tahun menantang keterbatasan usia demi sebuah kejayaan. (Hasan N Rahmad)
