Inspirasi
Beranda » Index Berita » “Filosofi Perjuangan” Budi Leksono untuk Anak-Anak Surabaya

“Filosofi Perjuangan” Budi Leksono untuk Anak-Anak Surabaya

Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya yang juga Ketua Fraksi PDIP DPRD Surabaya, Budi Leksono atau akrab disapa Abah Buleks

SURABAYA, (JuurnalBerita.id) – Atmosfer di dalam gedung cagar budaya Balai Pemuda Surabaya mendadak senyap. Di hadapan ratusan papan bercorak hitam-putih, ribuan pasang mata anak-anak usia sekolah dasar tampak menatap lekat ke arah bidak-bidak kayu di depan mereka. Jari-jemari mungil mereka sesekali mengetuk meja, ragu-ragu memegang pion, sebelum akhirnya mengeksekusi sebuah langkah taktis dan menekan tombol jam catur di sampingnya.

Di sudut ruangan, H. Budi Leksono, S.H., memperhatikan dinamika itu dengan senyum tertahan. Bagi pria yang akrab disapa Abah Buleks ini, riuhnya turnamen Piala Wali Kota Surabaya 2026 bukan sekadar kompetisi tahunan untuk memperebutkan trofi atau hadiah uang tunai.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang dipertaruhkan di sana. “Di balik papan catur, ada strategi perjuangan,” ujar Budi Leksono pelan, melontarkan sebuah kalimat yang langsung mengunci esensi dari apa yang sedang terjadi di ruangan itu.

Bagi sang legislator senior PDI Perjuangan sekaligus tokoh catur Kota Pahlawan ini, catur adalah miniatur kehidupan. Sebilah papan kotak-kotak itu mengajarkan seorang anak bagaimana cara bertahan saat ditekan, kapan harus mengorbankan sesuatu untuk tujuan yang lebih besar, dan bagaimana mengalkulasi masa depan lewat keputusan hari ini.

Namun, di luar arena pertandingan, kutipan “strategi perjuangan” itu juga menjadi tamparan bagi realitas tata kelola olahraga saat ini. Di tengah kondisi kepengurusan asosiasi kota (Askot) Percasi Surabaya yang tengah mengalami kekosongan kepemimpinan, Budi melihat adanya ancaman nyata yakni bakat-bakat muda Surabaya terancam telantar, atau yang lebih buruk, “dibajak” oleh daerah lain yang lebih sigap mencium potensi mereka.

Memotong Beban APBD di Ladang Minyak

Itulah mengapa perhelatan yang diikuti lebih dari 1.000 pecatur muda ini dinilai sebagai langkah darurat yang taktis. Budi Leksono menolak untuk diam. Strategi perjuangannya kali ini adalah menjemput bola.

“Kita tidak boleh kehilangan momentum. Fondasi regenerasi harus ditancapkan sekarang juga. Anak-anak yang memiliki bakat menonjol di turnamen ini tidak akan dibiarkan pulang begitu saja. Mereka akan langsung ditarik ke dalam pemusatan latihan intensif agar siap bertarung di level yang lebih tinggi,” tegasnya penuh optimisme.

Perjuangan di atas papan catur Surabaya ternyata belum sepenuhnya merata. Ketika mata Budi menyapu seisi ruangan, ada satu evaluasi tajam yang ia catat dalam benaknya, dominasi peserta masih timpang. Jumlah pecatur perempuan masih sangat minim.

Baginya, ini adalah babak baru dalam strategi perjuangan berikutnya. Ia membayangkan sebuah gerakan taktis ke depan, di mana olahraga otak ini tidak hanya ramah di tingkat klub, tetapi juga merangsek masuk menjadi bagian dari ekstrakurikuler wajib di sekolah-sekolah di seluruh penjuru Surabaya. Dengan begitu, bibit-bibit Grandmaster perempuan masa depan bisa lahir dari sudut-sudut kampung Kota Pahlawan.

Saat matahari mulai condong ke barat di langit Surabaya, satu per satu jam catur berhenti berdetak. Ada anak yang tersenyum puas, ada pula yang tertunduk lesu menahan air mata kekalahan.

Sanksi Tegas Menanti Pemalsu Riset, Komisi X DPR Desak Penguatan Integritas Ilmiah

Namun di mata Budi Leksono, mereka semua adalah pemenang yang sedang berproses. Sebab seperti dalam permainan catur, sebuah bidak pion yang paling kecil sekalipun, jika terus melangkah maju dengan strategi perjuangan yang konsisten dan presisi, pada akhirnya bisa berubah menjadi Ratu yang menggetarkan seluruh papan permainan. Dan perjuangan untuk masa depan anak-anak Surabaya itu, baru saja dimulai dari sebilah papan catur di Balai Pemuda. (Hasan N Rahmad)