Politik
Beranda » Berita » Komisi D DPRD Surabaya Bahas Penyempurnaan Raperda Pemajuan Budaya & Pembinaan Nilai-nilai Kepahlawan

Komisi D DPRD Surabaya Bahas Penyempurnaan Raperda Pemajuan Budaya & Pembinaan Nilai-nilai Kepahlawan

William Wirakusuma Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PSI (Foto: *istimewa)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Komisi D DPRD Kota Surabaya menyempurnakan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pemajuan kebudayaan dan pembinaan nilai-nilai kepahlawanan guna memastikan regulasi tersebut mampu secara komprehensif memayungi kebudayaan kota Surabaya.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, William Wirakusuma memastikan bahwa saat ini Panitia Khusus (Pansus) tengah melakukan pembahasan pasal demi pasal secara mendalam guna menjadikan payung hukum.  Ia menyebut jika masa pembahasan Raperda itu sudah cukup lama, ketelitian menjadi hal yang utama.

“Kita lagi bahas pasal demi pasal, jadi perlu pembahasan detail. Mengingat Perda ini sudah cukup lama pembahasannya. Kami ingin pembahasan lebih cermat agar sinkron dengan peraturan perundang-undangan di atasnya,” kata William, Kamis (05/03/2026) usai rapat.

Politisi PSI ini juga menegaskan, selain sinkronisasi aturan aspek kearifan lokal menjadi poin yang tidak boleh terabaikan. Karena sambung William, setiap pasal harus mencerminkan identitas Surabaya tanpa menabrak koridor hukum yang lebih tinggi.

“Kita ingin membahas secara teliti pasal-pasal sesuai dengan peraturan perundangan di atasnya, juga disesuaikan dengan kearifan lokal kota Surabaya,” papar dia.

Jejak Langkah Sang Pemimpin : Mengubah Tantangan Menjadi Kesuksesan

Dalam proses penggodokan ini, ia menyebut tidak ada satu pasal pun yang mendominasi pembahasan. Namun demikian Pansus memberikan perhatian serius pada pelestarian ekosistem budaya yang lebih luas termasuk sektor kuliner.

Ia mencontohkan kekhawatiran masyarakat terhadap eksistensi kuliner khas seperti Semanggi yang mulai langka. Bagi Pansus, budaya bukan sekadar kesenian panggung, melainkan mencakup seluruh identitas warga.

“Budaya itu tidak cuma kesenian, tapi juga ada ekosistem lainnya kayak kuliner. Karena ada yang menyampaikan, makanan Semanggi sudah semakin hilang di Surabaya. Kuliner itu termasuk budaya juga, jadi kita ingin supaya itu tetap dilestarikan,” pungkas William. (*JB01)