SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Struktur bangunan itu berdiri bersahaja di tengah padatnya permukiman kawasan Dupak Masigit, Kelurahan Jepara, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Bagi sebagian orang, SD Dumas mungkin hanya sebuah sekolah swasta kecil yang melayani anak-anak dari keluarga berpenghasilan tidak menentu. Namun, bagi H. Budi Leksono, S.H., sekolah yang berdiri sejak tahun 1977 ini adalah monumen pengingat tentang dari mana ia berasal dan untuk siapa ia berjuang.
Pria yang kini akrab disapa Abah Budi atau Buleks tersebut bukanlah politisi yang lahir dari karpet merah. Sebelum duduk nyaman di kursi parlemen DPRD Kota Surabaya sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan, ia adalah anak yatim piatu yang harus merasakan getirnya kerasnya kehidupan di Kota Pahlawan.
Tempaan Masa Kecil di Sudut Kampung Padat
Masa kecil Abah Budi di kawasan Dupak Masigit dipenuhi dengan tantangan ekonomi yang berat. Akibat keterbatasan biaya, ia bahkan sempat terpaksa menghentikan pendidikannya selepas lulus sekolah tingkat pertama. Demi menyambung hidup dan membantu keluarga, segala pekerjaan kasar di jalanan Surabaya pernah dilakoninya.

Abah Budi Leksono atau Abah Buleks saat pelepasan lulusan SD Dumas jalan Dupak Masigit Surabaya
“Karena desakan ekonomi, membuat saya harus bekerja sejak muda. Dari berjualan koran, menyemir sepatu, berjualan keliling di Pelabuhan Tanjung Perak, sampai pernah bekerja sebagai office boy,” kenang Abah Budi saat menceritakan kilas balik perjuangannya.
Keterbatasan fasilitas dan lingkungan bersahaja seperti yang ada di SD Dumas justru membentuk mentalitas dan learning character yang tangguh dalam dirinya. Nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama wong cilik justru lahir dari sudut-sudut kampung padat yang sering luput dari perhatian publik tersebut.
Merawat Ingatan, Menebar Kepedulian untuk Wong Cilik
Keberhasilan Abah Budi melenggang ke kursi DPRD Surabaya selama beberapa periode tidak membuatnya lupa daratan. Alih-alih meninggalkan kampung halamannya, kawasan di sekitar SD Dumas Dupak Masigit justru kerap menjadi episentrum aksi sosial dan penyerapan aspirasinya (reses).
Ketika wilayah tersebut diterpa kesulitan ekonomi, Abah Budi konsisten hadir membawa bantuan konkret, mulai dari program padat karya, advokasi jaminan kesehatan, hingga mengawal bantuan pendidikan. Baginya, sekolah swasta kecil seperti SD Dumas yang bertahan tanpa membebani biaya besar kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) harus terus disoroti agar mendapat perhatian berkeadilan dari Pemerintah Kota Surabaya.
Melalui rekam jejaknya, Abah Budi seolah ingin mengirimkan pesan kuat kepada anak-anak yang saat ini masih belajar di bangku sekolah sederhana seperti SD Dumas: bahwa keterbatasan lahiriah bukanlah dinding penghalang untuk merajut mimpi setinggi langit.
“Ada empat kunci yang selalu saya pegang dalam hidup, yaitu jujur, kerja keras, peduli kepada masyarakat, dan kekuatan doa,” pungkasnya.
Jejak langkahnya di Dupak Masigit akan selalu menjadi bukti hidup bahwa seorang mantan penjual koran pun bisa bertransformasi menjadi penyambung lidah rakyat yang amanah. (Hasan N Rahmad)
