Pendidikan
Beranda » Berita » Merajut Asa Pendidikan Gratis dan Evaluasi Gizi Anak-Anak Surabaya

Merajut Asa Pendidikan Gratis dan Evaluasi Gizi Anak-Anak Surabaya

Ilustrasi SPMB (*istimewa)

SURABAYA, (JURNALBERITA.ID) – Angin sepoi-sepoi di halaman Balai Kota Surabaya sore itu membawa suara ceriah anak-anak sekolah. Di sudut lain, persiapan panggung untuk menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 mulai berdiri megah.

Namun, di balik kemeriahan yang sedang dirancang, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tengah menuntaskan dua agenda besar yang menyangkut masa depan generasi mudanya yakni jaminan akan bangku sekolah dan keamanan isi piring makan mereka.

Memasuki akhir Mei 2026, kesibukan di Dinas Pendidikan Kota Surabaya meningkat drastis. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SD dan SMP resmi digulirkan.

Bagi ribuan orang tua di Surabaya, momen ini adalah pertaruhan nasib. Pemkot Surabaya tahun ini memasang target ambisius namun krusial yaitu, menyiapkan 42 ribu kursi demi memastikan jargon ‘Tidak Ada Anak Putus Sekolah di Surabaya’ bukan sekadar slogan di atas kertas.

“Kami ingin semua anak Surabaya, tanpa terkecuali, bisa mengakses pendidikan yang layak. Jalur prestasi dan zonasi kami buat se-transparan mungkin agar tidak ada lagi sekat yang menghalangi mimpi mereka,” ujar salah satu petugas pelayanan SPMB di pusat kota.

Demi Masa Depan Pendidikan Indonesia, SMSI Desak Pemerintah Benahi Kesejahteraan Dosen

Namun, mengantar anak-anak ke gerbang sekolah baru, masih separuh jalan. Ujian sesungguhnya justru muncul dari pemenuhan gizi yang mendampingi proses belajar mereka.

Beberapa pekan lalu, keceriaan di kawasan Tembok Duku sempat terkoyak. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi penyokong energi siswa, justru berujung pilu saat sekitar 200 siswa dari 12 sekolah mengalami keracunan massal. Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan.

Di sudut gang sempit kawasan Tembok Duku, sebut saja Aminah (42) berkali-kali memegang ujung jilbabnya yang mulai pudar. Di atas meja kayu yang bergoyang, sebuah gawai tua dengan layar retak sedang menampilkan laman pendaftaran sekolah. Tahun ini, anak sulungnya harus masuk SMP.

Bagi seorang ibu tunggal yang mengandalkan upah harian buruh cuci, urusan sekolah bukan sekadar memindahkan ruang kelas. Ini adalah pertaruhan nasib.

“Saya cuma takut anak saya telantar, tidak bisa sekolah karena biaya,” bisik Aminah, sembari matanya terlihat berkaca-kaca menatap layar ponsel yang digenggamnya.

Mengawal Kesehatan dari Gang Sempit, Anas Karno Menjaga Napas Perkampungan Surabaya

Respons Pemkot Surabaya pun tergolong cepat dan tanpa kompromi. Evaluasi total langsung dijatuhkan kepada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tegas diambil, dapur-dapur penyedia makanan yang tidak mengantongi sertifikat layak sehat langsung diancam sanksi berat hingga penutupan total. Pemkot menyadari, kecerdasan otak anak-anak tidak boleh dikorbankan oleh kelalaian higienitas.

Di tengah ketegangan urusan domestik sekolah dan dapur gizi tersebut, denyut nadi budaya Surabaya tetap berusaha memberikan ruang napas bagi warganya.

Program Senja Budaya yang rutin digelar di ruang publik akhir pekan ini, serta ritual Ruwatan Kota yang akan datang, menjadi oase penyejuk. Ruwatan bukan sekadar tradisi tanpa makna, melainkan simbol pembersihan kota dari segala marabahaya—termasuk harapan agar anak-anak Surabaya selalu sehat dan terlindungi.

Surabaya di usianya yang makin matang sedang memperlihatkan karakternya yang asli, kota yang tangguh berbenah. Ketika sistem pendidikan diperbaiki dan keamanan pangan diperketat, di situlah Kota Pahlawan sedang benar-benar berjuang memenangkan masa depan generasi mudanya.  (Hasan N Rahmad/JB01)

Cerita Rasa, Senja Budaya di Tugu Perjuangan Arek-arek Suroboyo