SURABAYA, (JurnalBerita.id) – Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya, Anas Karno, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pelayanan publik bernama Bunda Jelita (Bersama Urus Kelahiran dan Identitas Anak).
Program besutan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Surabaya ini dinilai sukses memangkas birokrasi dan menjawab langsung kebutuhan mendasar warga.
Program Bunda Jelita mengintegrasikan pendampingan keluarga dengan pengurusan administrasi kependudukan sejak masa kehamilan hingga setelah bayi lahir.
Melalui program ini, pengajuan akta kelahiran anak akan langsung disertai dengan penerbitan Kartu Keluarga (KK) baru dan Kartu Identitas Anak (KIA) secara otomatis.
“Layanan pengajuan akta kelahiran yang langsung disertai penerbitan KK serta KIA secara otomatis. Lebih cepat, lebih mudah, dan lebih praktis untuk masyarakat,” ujar Kepala Disdukcapil Kota Surabaya, Irvan Wahyu Dradjad.
Menanggapi terobosan tersebut, Anas Karno menilai bahwa Bunda Jelita merupakan langkah proaktif pemerintah kota yang sangat baik. Persiapan dokumen administrasi bahkan sudah mulai dicicil sejak usia kandungan ibu memasuki sekitar tujuh bulan.
“Ini inovasi yang sangat baik. Pelayanan tidak hanya hadir setelah bayi lahir, tetapi sudah dipersiapkan sejak masa kehamilan. Ketika bayi lahir, proses penerbitan akta kelahiran, KK, dan KIA bisa dilakukan lebih cepat,” kata Anas Karno, Senin (21/09/2026).
Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini menambahkan, pola pelayanan jemput bola seperti ini membuktikan kehadiran negara dalam memotong jalur birokrasi yang selama ini memaksa masyarakat mengurus dokumen secara terpisah.
Menurut Anas, percepatan dokumen kependudukan bukan sekadar urusan administratif belaka, melainkan bagian dari pemenuhan hak dasar anak sejak dini agar terhubung dengan akses layanan publik lainnya.
“Akta kelahiran adalah identitas pertama seorang anak. Dari dokumen kependudukan itu, akses terhadap berbagai layanan publik menjadi lebih mudah. Karena itu, semakin cepat dokumen anak diterbitkan, semakin baik,” tegas Anas.
Keberhasilan program Bunda Jelita ini juga tidak lepas dari kolaborasi luas Disdukcapil Surabaya dengan berbagai fasilitas kesehatan (faskes).
Saat ini, program tersebut telah terintegrasi dengan 66 Rumah Sakit, 136 Praktik Bidan Mandiri, 63 Puskesmas Melalui jaringan faskes yang luas ini, warga Surabaya tidak perlu lagi membuang waktu dan tenaga untuk datang ke kantor Disdukcapil setelah melahirkan. Sistem terintegrasi akan langsung memproses dokumen tersebut di tempat ibu melahirkan.
Meski memberikan pujian, Anas Karno mengingatkan agar Disdukcapil tidak lengah dalam hal edukasi publik. Ia berharap sosialisasi mengenai kemudahan program Bunda Jelita terus digencarkan secara masif melalui struktur terbawah, seperti kelurahan, kader lingkungan, faskes, hingga jejaring masyarakat.
“Jangan sampai inovasinya sudah bagus tetapi belum diketahui masyarakat. Kami di DPRD tentu mendorong agar layanan seperti ini terus diperkuat, dievaluasi, dan dipastikan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujarnya. (Hasan N Rahmad)

