JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Ketegangan geopolitik global dan anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus rekor terendah baru di level Rp17.600-an per dolar AS berdampak langsung pada perekonomian Surabaya melalui lonjakan biaya produksi industri manufaktur, ancaman inflasi barang pokok (imported inflation), serta penurunan daya beli riil masyarakat kota.
Sebagai pusat perdagangan dan industri terbesar di Indonesia Timur, Surabaya sangat rentan terhadap disrupsi rantai pasok global dan fluktuasi mata uang asing.
Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya menunjukkan pertumbuhan ekonomi kota tetap tangguh pada angka 5,87%, kerentanan ganda dari faktor alam dan ekonomi makro ini berpotensi menghambat stabilitas jangka panjang.
Kota Surabaya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi utama di kawasan Indonesia Timur, sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar uang.
Banyak industri manufaktur di Surabaya yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Melemahnya rupiah meningkatkan biaya produksi secara signifikan.
Lonjakan biaya operasional industri dan logistik akan memicu transmisi harga ke konsumen. Akibatnya, terjadi penurunan daya beli masyarakat lokal terhadap kebutuhan pokok yang memicu tekanan inflasi.
Ketidakpastian nilai tukar yang ekstrem berisiko meningkatkan suku bunga, sehingga penyaluran kredit perbankan ke sektor usaha di Surabaya cenderung melemah.
Sisi positifnya, produk komoditas ekspor dari Pelabuhan Tanjung Perak menjadi lebih kompetitif dan murah di pasar internasional, berpotensi mendongkrak pendapatan emiten ekspor.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjaga kota dari krisis fiskal melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha atas Ketersediaan Layanan (KPBU-AP), penyesuaian skala prioritas anggaran, pengoptimalan aset daerah, serta penerapan teknologi non-tunai guna mencegah kebocoran APBD. (*hnrindo2@gmail.com)
