JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Kepastian revitalisasi pasar Keputran Selatan hingga kini belum ada tanda-tanda kejelasan pembangunan sejak dibongkar pada (17/12//2025) yang lalu. Sementara para pedagang sendiri dipindah ke tempat penampungan sementara (TPS). Hanya saja bangunan TPS banyak dikeluhkan pedagang karena bocor dan tak ada air. Sehingga pedagang berjualan sisi luar pinggir jalan.
Pemkot Surabaya (Satpol PP) telah melakukan himbauan dan sosialisasi kepada para pedagang di luar agar kembali berjualan di dalam TPS. Karena berjualan di pinggir jalan banyak dikeluhkan pengendara kendaraan yang dirasa mengganggu arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Moch. Machmud menyoroti kondisi tersebut. Dia menyebut saat rapat hearing Selasa (20/1/2025) lalu, bahwa dia sudah melihat dan mendengar langsung semua proses, baik dari pedagang maupun dari Direktur Pembinaan Pedagang (DPP) PT Pasar Surya (Perseroda).
“Saya lihat PT Pasar Surya melakukan kesalahan cukup fatal. Sekitar 231 pedagang (328 pemilik stan) disuruh keluar dan stannya dibongkar, sementara pemenang lelang belum ada. Ini kesalahan fatal,” tegas Machmud, Sabtu (31/1/2026).
Dia menyampaikan, bagaimana bisa ada pemenang lelang, kalau penawarannya lebih rendah. Semula dianggarkan Rp 11 miliar, tapi karena kontraktor tak ada yang berminat, lantas anggaran dikurangi untuk pembangunan TPS, dan juga pembangunan IPAL. Sehingga anggarannya kini menjadi Rp 9,8 miliar. Karena itu, tak heran jika peminat yang mengikuti lelang sedikit.
“Ya, namanya pengusaha kalau mau bangun mesti berharap dapat untung. Ia bisa mengambil (keuntungan ) itu dari pembangunan TPS dan pembangunan IPAL. Tapi keduanya dipisah, dilelang sendiri-sendiri, sehingga mereka hanya dapat untung dari pembangunan fisik gedung saja,” ungkap politisi partai Demokrat ini.
Mahmud juga menegaskan, setelah dilakukan penelusuran serta info yang didapat, ternyata pembangunan TPS dan IPAL banyak yang bermasalah. Artinya, tidak cocok dengan speknya.
“Ini tentu akan menjadi masalah baru lagi. Yang saya enggak habis pikir, kenapa oleh PT Pasar Surya (Perseroda) kok pisah-pisah, enggak menjadi satu kesatuan dengan gedung utama. Bagaimana nanti pondasinya apa enggak kena limbah? Seharusnya kan satu kesatuan, pondasinya dulu baru pembangunan IPALnya atau seperti apa,” ungkap dia.
Jika revitalisasi Pasar Keputran sisi Selatan, lanjut dia, ditargetkan 31 Januari 2026 sudah harus ada pemenang lelang. “Setelah 31 Januari nanti PT Pasar Surya akan kita undang untuk menyampaikan berapa jumlah peserta lelang dan pemenangnya siapa dan seterusnya,” paparnya.
Terus bagaimana nasib para pedagang? Machmud menyayangkan, jika para pedagang ditampung di TPS namun TPSnya enggak layak, akibatnya banyak pedagang yang berjualan di luar. Yang jelas, lanjut dia, penanggungjawab sudah mengaku salah. Bahkan, saat hearing tidak bisa bicara ketika dicecar berbagai pertanyaan oleh anggota Komisi B. Ini karena tindakan yang dilakukan kurang tepat, bangunan pasar dibongkar dulu, pedagang di suruh keluar, namun belum ada pemenang yang akan mengerjakan proyek tersebut.
“Ini yang membuat pedagang kecewa berat dan bahkan menyatakan mosi tidak percaya kepada PT Pasar Surya,” ungkap dia.
Ditanya minimnya peserta lelang apakah dampak dari tidak harmonisnya hubungan diinternal direksi PT Pasar Surya, pasca Revitalisasi Pasar Kembang yang mana berkembang isu jika ada keluhan dari kontraktor karena harus memberikan fee ke sana ke sini? Machmud menjelaskan minimnya peserta lelang pembangunan Pasar Keputran sisi Selatan bisa jadi karena memang anggarannya enggak cukup. Tapi jika ada isu, adanya pungutan seperti itu dirinya tidak tahu.
“Soal isu kontraktor harus memberikan fee ke sana-sini, saya juga tidak tahu. Seharusnya kan enggak boleh,” tegasnya.
Mantan jurnalis ini menerangkan, jika toh misalnya revitalisasi Pasar Kembang lalu menyisakan keluhan kontraktor diminta fee, kemudian terus itu menjadi cerita ke pengusaha-pengusaha lain, sehingga peminat di Keputran Selatan jadi minim, ini tentu menurunkan kepercayaan kepada PT Pasar Surya. Karena itu, Machmud menyatakan harus ada pembenahan total, baik dari internal pasar, birokrasinya seperti apa.
“Semuanya harus dibersihkan dari situ. Kalau tidak, maka korbannya ya Pasar Keputran Selatan, kalau dugaan itu betul. Ya, bisa saja sesama rekanan saling cerita kalau mengerjakan pasar banyak pungutan ini itu. Ini tentu akan menimbulkan kesan negatif di PT Pasar Surya,”tutur dia.
Tapi sejauh ini, Machmud belum yakin kalau ada pungutan, apalagi enggak ada bukti. Namun sekali lagi, dia menegaskan, kalau ada pungutan pada revitalisasi Pasar Kembang, silakan para pengusaha atau rekanan melaporkan ke Komisi B, pihaknya akan menerima secara terbuka atau tertutup.
“Kalau benar ada, mereka memberikan ke siapa saja. Ini penting agar para pengusaha ini tidak jadi korban,” pungkas dia.
Sementara pihak direksi PT Pasar Surya hingga berita ini ditayangkan belum bisa dikonfirmasi. (*JB01)
