Jamiluddin Ritonga: Gibran Belum Layak Jadi Capres

M Jamiluddin Ritonga

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Banyak pihak memprediksi Gibran Rakabuming Raka berpeluang jadi capres 2024. Prediksi ini muncul setelah Gibran dikunjungi para tokoh nasional dan beberapa menteri.

Prediksi tersebut terkesan datang dari orang-orang bermental asal bapak senang. Orang-orang yang cari muka ke bapaknya Gibran, Joko Widodo.

Bagi orang yang objektif, tentu tidak cukup alasan untuk mendorong Gibran untuk nyapres 2024. Sebab, hingga saat ini belum ada prestasi Gibran yang layak dibanggakan.

Gebrakannya selama menjadi Wali Kota Solo juga belum ada yang moncer. Gibran hanya minta semua kepala dinas punya medsos dan siap berantas prostitusi online.

Selain itu, Gibran bersama Kapolrea Surakarta mengobrak-abrik lokasi prostitusi di Kawasan Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Solo.

Dengan gebrakan seperti itu, tentu semakin sulit untuk menginventarisasi prestasi Gibran di level lokal. Kalau pun itu dianggap prestasi, mungkin saat Gibran terpilih sebagai wali kota Solo.

Elektabilitas Gibran untuk calon presiden juga belum muncul pada berbagai survei. Ini mengindikasikan, Gibran belum diperhitungkan dikancah nasional, khususnya untuk kandidat presiden.

Jadi, tanpa prestasi yang memadai dan elektabilitas yang tidak jelas, Gibran didorong-dorong oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka ini hanya para petualang politik yang tujuannya hanya mencari keuntungan finansial.

Karena itu, biarkan Gibran menjalankan tugasnya sebagai wali kota Solo. Rakyat Solo menanti janji-janji Gibran untuk diwujudkan.

Biarkan waktu yang menjawab, apakah Gibran nantinya layak menjadi capres. Namun untuk saat ini, pastinya Gibran sangat tidak layak untuk didorong jadi capres 2024.

M. Jamiluddin Ritonga
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul.

Menulis buku:
1. Tipologi Pesan Persuasif
2. Perang Bush Memburu Osama
3. Riset Kehumasan

Mengajar:
1. Isu dan Krisis Manajemen
2. Metode Penelitian Komunikasi
3. Riset Kehumasan

Dekan FIKOM IISIP Jakarta 1996 – 1999.

Share this post

No comments

Add yours