Jamiluddin Ritonga : Meteri Sosial Hanya Lakukan Pencitraan Dari Pada Kerja

M Jamiluddin Ritonga

JURNALBERITA.ID – JAKARTA, Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini (Risma) tampaknya menteri yang banyak mendapat publikasi media dibandingkan menteri lain yang dilantik Presiden Jokowi pada 23 Desember 2020 yang lalu.

Publikasi itu diperolehnya dari kerja blusukan menemui gelandangan dan pengemis di Jakarta.

Menurut pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jakarta, M Jamiluddin Ritonga, apa yang dilakukan oleh Menteri Sosial ini jangan hanya melakukan pencitraan dari pada kerja.

Karena apa yang lakukan Risma mendapat publikasi dari media, dengan munculnya relawan Pasukan Tri Rismaharini (Pasutri) For DKI, imbuhnya.

Dua peristiwa itu, kata pria yang dipanggil Jamil ini, terkesan saling berkaitan yang kental bermuatan politis. Karena itu, sulit untuk meniadakan aroma politis dalam aktivitas blusukan Risma di Jakarta.

Hal itu sangat disayangkan mengingat kapasitas Risma sebagai Menteri Sosial. “Kesan di masyarakat, Risma melakukan aktivitas politis yang dibungkus aroma sosial dengan menemui gelandangan dan pengemis,” terangnya.

Kalau hanya itu yang dilakukan, sambung dia, maka akan timbul kesan Risma sedikit bekerja tapi banyak publikasi. Hal ini tentu dapat mengecok masyarakat dalam menilai Risma. Seolah-olah Risma pekerja luar biasa hanya karena melihat gencarnya publikasi.

“Padahal, apa yang dilakukan Risma bukanlah pekerjaan utama seorang menteri. Tugas utama seorang menteri menyusun kebijakan (regulasi) sesuai visi dan misi yang sudah ditetapkan,” kata Dekan FIKOM IISIP Jakarta 1996 – 1999 ini.

Selain itu, ujar Jamil, menteri harus melaksanakan kebijakansesuai fungsi dan tugasnya serta melakukan evaluasi hasil pelaksanaan kebijakan.

Tugas utama menteri tersebut belum ada yang dilakukan Risma. Tapi anehnya masyarakat sudah menilainya berhasil hanya karena blusukan yang gencar dipublikasikan, urainya

“Penilaian yang tidak proporsional itu harus diingatkan. Kalau tidak, nanti ada menteri yang dinilai berhasil padahal ia tidak melaksanakan tugas utamanya. Ini tentu menyedihkan,” ungkap Jamil. (*JB01)

M. Jamiluddin Ritonga
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul.

Dekan FIKOM IISIP Jakarta 1996 – 1999.

Penulis buku:
1. Tipologi Pesan Persuasif
2. Perang Bush Memburu Osama
3. Riset Kehumasan

Mengajar:
1. Isu dan Krisis Manajemen
2. Metode Penelitian Komunikasi
3. Riset Kehumasan

Share this post

No comments

Add yours