Seni Ludruk Redup Di Surabaya, Karena Ingkar Janji & Kurangnya Perhatian Dari Pemerintah

Rusmini alias cak Meimura saat berbincang-bincang dengan WakilKetua DPRD Surabaya, Reni Astuti (JB01)

JURNABERITA.ID – SURABAYA, Seni Ludruk di Surabaya mulai meredup seiring dengan kurangnya perhatian dari semua pihak termasuk suport dari pemerintah kota Surabaya. Designnya kuat tapi Goalnya gak ada, pemerintah kota Surabaya telah memberikan suport dengan anggaran sebesar Rp 250 juta pada tahun 2018 yang lalu untuk menopang latihan, disampaikan Rusmini alias Meimura.

“Suport Walikota Surabaya Tris Rismaharini sudah luar biasa yang tidak diimbangi oleh pemahaman dari anak buahnya. Sehingga tidak bisa menjembatani pada beliau,” terangnya, Senin (21/09) diruang kerja Wakil Walikota Surabaya, Reni Astuti.

BACA JUGA :

Tadinya pertunjukan yang disajikan dengan meminta bayaran. Dengan suport dari Pemkot itu, pihaknya mampu mengembangkan 58 karya inovasi dan memdapat hati dari masyarakat. Dan banyak respon dari pihak ketiga, dan tahun selanjutnya tidak ada kelanjutannya, urainya.

“Bahkan bu Risma dalam pidatonya mengatakan, bahwa disiplin ludruk itu sama dengan disiplin untuk meraih gelar Doktor. Namun, gedung THR dibubarkan, ini membuat kontradiktif dengan suport yang diberikan Pemkot Surabaya. Gedung THR ini memiliki sejarah panjang dalam masa penjajahan, seyogyanya gedung THR tidak boleh tergusur,” paparnya.

Janji seorang pemimpin akan dipertanggungjawabkan diakhirat, bahkan pak Armuji berjanji untuk tidak memindah DKS dari balai Pemuda. Lanjut dia, kalau rakyat berkehendak maka akan selesai.

“Saya akan mendatangi calon Walikota Surabaya 2020 dan meminta kometmen terhadap mereka. Saya akan datang ke Mahfud Arifin menanyakan soal kometmen beliau untuk menghidupak kembali warisan budaya bangsa khususnya kesenian Ludurk di Surabaya,” tegas pria yang posisinya sebagai sutradara dalam dunia seni Ludruk.

Pengakuannya menemui Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti untuk melaporkan terkait kegiatan protokol kesehatan dengan membagi-bagi masker ke 32 pasar yang ada di Surabaya yang di[erolehnya dari berbagai sumbangan pihak ketiga.

“Iya selam masa pandemi kami turut peduli terhadap masyarakat, terutama pada pedagang kecil yang penghasilannya sehari berkisar sekitar Rp 50 ribu,” ungkap cak Meimura.

Sementara, Reni Astuti sangat mengapresiasi para ekerja seni Ludurk dalam pandemi dan serba keterbatasanya masih memiliki rasa simati dan peuli pada sesama.

“Ya kedatangan cak Meimura alias Rusmini ini untuk menyampaikan kegiatanya selama masa pandemi dengan peduli protokol kesehatan dengan membagikan masker di 32 pasar tradisional di Surabaya,” jelas Reni.

Teman-teman pekerja seni Ludruk pernah hearing di komisi D terkait gedung THR. “Mereka meminta untuk ketemu dan saya memberikan apresiasi yang memiliki kepedulian yang besar menanggulangi Covid-19 dengn menggalang bantuan dari berbagai pihak,” ujar Reni.

Seyogyanya Pemkot memberikan perhatian lebih pada pekerja seni dengan memberikan ruang untuk megapresiasi karya mereka, sambungnya.

“Untuk itu, saya akan memberikan masukan pada pemerintah kota maupun bakal calon walikota dan wakil walikota Surabaya agar memberikan ruang bagi pekerja seni Ludruk di Surabaya,” kata Reni.

Karena pada beberapa waktu yang lalu dinas pariwisata mengadakan rapat yang tidak melubatkan mereka. Sebaiknya mereka juga diberikan kesempatan dan ruang agar aspirasi mereka ditampung, tukas Reni. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours