Proyek Jembatan Joyoboyo Rendah Serapan, Komisi C Desak Dinas PUBMP Tidak Berikan Adendum

Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Baktiono

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Komisi C bidang pembangunan DPRD Kota Surabaya meninjau langsung pelaksanaan pekerjaan proyek jembatan Joyoboyo.

Pasalnya, secara fisik serapan yang dilaporkan oleh pihak pelaksana proyek realisasinya mencapai 53,38 persen dari nilai proyek sebesar Rp 39.863.911.894 yang ditargetkan selesai hingga Desember 2020 mendatang.

Laporan realisasi yang disampaikan pelaksana proyek justru menurut Komisi C tidak sama dengan fakta fisik dilapangan, setelah Komisi C melakukan meninjauan langsung proyek tersebut, Kamis (06/08), terang Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Baktiono.

BACA JUGA : 

“Dalam laporan realisasi yang disampaikan telah mencapai 53,83 persen, namun ketika kita tinjau langsung baru terealisasi fisik sekitar 30 persen saja,” ungkapnya.

Baktiono menambahkan, oleh karenanya Komisi C minta agar Dinas PU tidak memberikan Adendum. Dikhawatirkan, lanjut dia, proyek ini akan dikerjakan asal-asalan oleh pelaksana proyek, sebab bisa dilanjutkan pada periode tahun berikutnya.

“Kami rekomendasikan agar proyek tersebut dikebut pengerjaannya, kalau perlu dikerjakankan 24 jam. Karena pekerjaan proyek tersebut, saya rasa tidak ada imbasnya terhadap lingkungan maupun dampak pada lalulintas yang ditimbulkan,” terangnya.

Politisi PDIP ini memaparkan, jika proyek ini dilakukan sesuai dengan target atau lebih cepat tutas, bisa segera bermanfaat bagi masyarakat dan Pemkot juga diapresiasi baik.

“Jika cepat selesai, kan bisa segera dimanfaatkan untuk masyarakat, Pemkot juga dinilai bagus oleh masyarakat,” ujar Baktiono.

Selain itu, sambung dia, detail design engenering yang ada, sama sekali tidak menampilkan Suroboyonya.

Padahal saat hearing di Komisi C yang melibatkan Dewan Kesenian Suroboyo (DKS), dan diusulkan agar pembangunan Jembatan Joyoboyo perlu menonjolkan kekhasan Suroboyo nya.

“Seperti Bung Karno membangun Tugu Pahlawan dan Monas, design yang ditampilkan menonjokan ciri khasnya. Kalau ke Tugu Pahawan yang pasti adanya di Surabaya, begitu juga dengan Monas. Masyarakat sudah paham itu,” urai dia.

Diusukan sebelum dibangun, waktu hearing jembantan itu harus menampilkan kekhasan Suroboyo. Jadi , kalau masuk Surabaya lewat jembatan Joyoboyo, bahwa jembatan itu cuman ada di Surabaya, dan tidak sama dengan jembatan-jembatan lainnya, tukas Baktiono.

“Jadi punya ciri khas, kalau jembatan itu hanya adanya di Surabaya bukan didaerah lain,” tegasnya. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours