Gaya Kepemimpin Perfeksionisme & Otoritarianisme, Apa Kata Awey?

Wakil Ketua DPW Partai NasDem Jatim Bidang Media & Komunikasi Publik yang juga Pemerhati Kebijakan Pemerintah, Vinsensius Awey (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna untuk mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi. Perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme.

Pada bentuknya sebagai penyakit, perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang memiliki perhatian berlebih terhadap detail suatu hal, dan bersifat obsesi, sensitif terhadap kritik, cemas berkepanjangan, keras kepala, berpikir sempit, dan suka menunda.

Otoritarianisme adalah bentuk organisasi sosial yang ditandai oleh penyerahan kekuasaan. Ini kontras dengan individualisme dan demokrasi. Dalam politik, suatu pemerintahan otoriter adalah satu di mana kekuasaan politik terkonsentrasi pada suatu pemimpin.

BACA JUGA :

Kedua gaya kepemiminan itu akan melahirkan suatu ketidaknyamanan pada level bawahannya. SehIngga pertarungan merebut hati pimpinannya dengan cara menjual muka alias menjilat pada sang majikan (Pemimpin, red), asal bapak senang (ABS).

Akibatnya, proses demokrasi tidak berjalan baik, justru orang-orang terdekatnya adalah orang-orang yang pinter menjilat alias cari muka. Merekalah yang mampu memenangkan persaingan, ketimbang prestasi yang ditorehnya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kerap mengumbar kemarahan di depan media. Hal itu dinilai tidak sepatutnya dilakukan seorang pemimpin. Gaya kepimimpinannya adalah sebuah perhatian yang ingin didapatkan dari masyarakat luas. Akan tetapi dirinya tidak menyadari, bahwa orang-orang terdekatnya justru mencibirnya atau bahkan mencemooh, ucap Vinvesnsius Awey.

“Mengenai mengapa Bu Risma suka marah-marah?, memang setiap pemimpin memiliki karakter pemimpin masing- masing. Punya style masing-masing, tapi sepatutnya tidak seperti itu,” ujar Wakil Ketua DPW Partai NasDem Jatim Bidang Media & Komunikasi Publik, Vinsensius Awey, Sabtu (20/06).

Menurutnya, ada dua kemungkinan mengapa sikap Wali Kota Risma kerap marah-marah. Karena memang sudah bawaan dari lahir atau memiliki temperamen tinggi.

“Atau merupakan tuntutan skenario layaknya drama Korea (DraKor) atau personal branding. Tapi sebagai penentu keputusan dan panutan staf, maupun masyarakat, setidak tidaknya seorang pemimpin harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi,” jelasnya.

Urai Awey, pemimpin itu tidak mudah, namun tidak semua hal diselesaikan dengan cara marah-marah, disikapi dengan temperamen bahkan cendrung arogansi.

Dia melanjutkan, selain miliki kecerdasan intelektual, seorang pemimpin juga harus bisa mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, memiliki empati dan juga membina hubungan.

Namun banyak juga masyarakat tertarik dan bangga kalau melihat pemimpinnya tampak marah-marah di depan media atau depan publik. Seperti Pak Ahok, Bu Risma dan ada beberapa kepala daerah yang sering kerap marah-marah di depan media hanya sebuah pencitraan guna mendapat empaty publik.

“Mungkin sebagian masyarakat melihat itu adalah sebuah tontonan yang menunjukkan keseriusan pemimpin dalam menjalankan roda kepemimpinannya,” paparnya.

Menunjukkan kinerja yang baik dari seorang pimpinan daerah, untuk berupaya keras adanya perbaikan. Sehingga dengan cara marah seperti itu justru mendapat simpati dari masyarakat luas, sambungnya.

Jadi, kata Awey, ada baiknya kecakapan dalam manage emosi jauh lebih baik, untuk seorang kepala daerah.
Karena banyak daerah yang berhasil di bawah kepemimpinan seorang kepala daerah yang wise (bijaksana) yang mampu memanage emosi mereka dengan baik tanpa harus meledak-ledak.

“Meskipun yang dimarah-marahi belum tentu memiliki dasar alasan yang jelas, atau sesuatu yang dimarahi belum tentu hasilnya lebih baik. Atau sesuatu yang dimarahi belum tentu ada kaitannya dengan sebuah persoalan yang bisa membawa dampak luas,” katanya.

Awey menandaskan, sangat tidak patut bila ada pimpinan daerah yang tampak temperamen dalam situasi apapun dikarenakan sebuah tuntutan skenario atau sebuah lakon DraKor yang dipertontonkan untuk tujuan tertentu.

“Jadi poinnya seperti itu. Maka, cepat atau lambat kepura-puraan tersebut akan terungkap juga dikemudian hari,” pungkas mantan anggota DPRD Kota Surabaya tersebut.

Wali Kota Risma pernah marah-marah bahkan murka saat pembagian es di Taman Bungkul hingga rebutan dua mobil laboratorium bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Terakhir Wali Kota Risma marah kepada bandar narkoba di Polrestabes Surabaya, tutup Awey. (4W3Y/JB01)

Share this post

No comments

Add yours