Langgar Gipo, Tonggak Sejarah & Gudang Ilmu Agama Yang terabaikan, Laila Gagas Sebagai Warisan Cagar Budaya

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Laila Mufidah saat melihat kondisi terkini Langgar Gipo di Jl Kalimas Udik atau gang Gipo (*JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Tapak tilas Langgar (Surau atau Mushallah, red) Gipo didirikan oleh KH Hasan Sagipoddin yang merupakan pengurus besar atau ketua Umum PBNU.

Langgar ini terletak di kawasan wilayah sisi utara Surabaya tepatnya disekitar wilayah masjid agung Sunan Ampel. Bangunan Surau yang terlihat masih kokoh berdiri tegak sebagai bukti sejarah yang terletak di Jl. Kalimas Udik. Dulu orang menyebut gang Gipo, Kelurahan Nyampulangan Kecamatan Pabean Cantikan kota Surabaya.

Konon kabarnya, Langgar Gipo merupakan tonggak sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mengusir penjajahan di bumi pertiwi dari Surabaya. Sungguh sangat memperhatinkan kondisi Langgar Gipo saat ini, setelah sekian puluh tahun keberadaannya tidak terawat sehingga tampak beberapa plafon atasnya terlihat lapuk dan banyak yang rusak.

Dibagian belakang langgar, terdapat bunker sebagai tempat persembunyian bagi para penjuang. Diameternya berkisar sekitar 1,5 meter x 1 meter. Bangunan berlantai dua ini, dibagian atas biasa digunakan sebagai tempat pertemuan dan diskusi.

BACA JUGA :

Menurut sejarah yang dihimpun, Langgar Gipo merupakan salah satu bukti sejarah yang tidak boleh dilupakan, karena Langgar ini banyak menyimpan nilai-nilai historikal perjuangan para santri dan warga Surabaya dalam mengusir penjajahan dari kota Surabaya.

Dilansir dari tokoh masyarakat setempat dan referensi lain, bahwa Langgar Gipo sering dijadikan sebagai tempat pertemuan para tokoh nasional seperti HOS Tjokroaminoto dan Ir Soekarno bersama tokoh NU. Tidak hanya itu keberadaan Langgar ini juga sebagai asrma haji pertama di Surabaya pada tahun 1834 M. Jamaah haji pertama dari Surabaya diberangkatkan dan singgah (tempat transit) dari langgar Gipo lewat jalur sungai Kalimas.

Sekarang Langgar Gipo hanya sebagai tempat aktifitas ibu-ibu dalam mengerjakan sholat maupun pengajian di kampung sekitar Langgar.

Menindak lanjuti langgar Gipo yang terabaikan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, dari Fraksi PKB, Laila Mufidah menyayangkan kondisi itu.

Menurutnya, melihat jejak sejarah yang cukup tinggi nilainya, dirinya merasa prihatin jika keberadaan langgar Gipo tersebut dilupakan dan terabaikan oleh sejarah bangsa ini.

“Ini sangat saya sayangkan, kalau surau yang menyimpan tonggak sejarah yang begitu besar, dilupakan oleh anak bangsa. Oleh karenanya, saya berharap langgar Gipo bisa menjadi catatan sejarah dan masuk dalam warisan cagar Budaya bangsa,” kata Laila, saat melihat langsung keberadaan Langgar Gipo, Jumat (19/06).

Dia menyampaikan, surau itu dulunya ditempati sebagai tempat ibadah sekaligus pertemuan para tokoh nasional, ruang diskusi  terkait pengembangan ilmu , budaya, sosial, ekonomi serta politik.

Bahkan kata politisi PKB ini, Langgar ini juga sebagai pertemuan tokoh nasional dalam menyusun strategi melawan penjajahan, seperti Ir. Soekarno, HOS Tjokroaminoto bersama para tokoh NU.

Laila Mufidah, Wakil Ketua DPRD Surabaya, saat melihat langsung keberadaan Langgar Gipo Surabaya (*JB01)

“Langgar ini memiliki nilai sejarah yang besar bagi berdirinya republik Indonesia ini, Karena dari sisnilah sejarah tercatat perlawanan arek-arek surabaya bersama santri NU mengusir penjajah,” terangnya.

Sudah sepatutnya, pemerintah kota Surabaya turut memperhatikan tonggak sejarah yang terabaikan tersebut, dan dapatnya tonggak sejarah itu menjadi warisan cagar budaya, ujar Laila

“Saya berharap ada campur tangan dari Pemkot Surabaya untuk memasukan langgar Gipo ini sebagai salah satu situs cagar budaya bagi Surabaya. Karena nilai-nilai luhur yang pernah melekat terjadi di langgar ini,” ungkapnya.

Hal ini sambung Laila, juga sudah dikomunikasikan dengan pihak Dinas Pariwisata dan kebudayaan (Disbudpar) kota Surabaya untuk dilakukan revitalisasi. Tidak hanya itu, papar dia, jika menjadi catatan cagar budaya bisa juga sebagai referensi sejarah pengetahuan dan membuka ases perekonomian bagi masyarakat sekitar.

“Semoga peninggalan sejarah ini bisa tercatat sebagai salah satu situs cagar budaya, dan menjadi saksi sejarah serta ilmu pengetahuan, saat perjuangan para santri dan arek-arek suroboyo waktu itu,” harapnya. (JB01)

 

 

 

Share this post

No comments

Add yours