Overloadnya Pasien COVID-19 Di Rumah Sakit, Ditanggapi Dokter Akmarawita Kadir, M.Kes, AIFO

dr Akamarawita Kadir, M.Kes, AIFO Sekretaris Komisi D yang juga Sekretaris Fraksi partai Golkar DPRD kota Surabaya (*)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Hampir sejumlah rumah sakit di Surabaya mengalami overload penanganan pasien COVID-19. Terteternya pihak rumah sakit yang menangani kasus pasien Covid-19 ini, lantaran masih terus bertambahnya orang yang terinfeksi positif COVID-19 di Surabaya. Dari 15 RS rujukan di Surabaya mengalami overload, sehingga penerimaan pasien COVID-19  perlu penataan untuk diskedul.

Kondisi ini, sudah diprediksi sejal awal oleh dr Akmarawita Kadir, M.Kes, AIFO yang juga sebagai Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya. Politisi partai Gokkar ini sudah menyarankan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mempersiapkan  penambahan rumah sakit khusus Covid-19 yang menangani pasien dengan gejala berat.

BACA JUGA :

Dokter Akma juga menyinggung agar Pemkot membuat ruang isolasi bagi ODP, PDP dan konfirmasi Covid-19 yang bergejala ringan dan sedang.

“Overload pasien Covid-19 di RS ini, akibat faktor di hulu masih dilakukan adanya tes rapid secara masif oleh Pemkot. Selain itu, tidak maksimalnya penerapan PSBB tahap I dan II,” terang dr Akma, Kamis (28/05) di gedung DPRD Surabaya.

Dokter Akma menambahkan, jika pada awal bulan Maret, dirinya berkoar-koar agar Pemkot tanggap dan fokus menambah RS yang khusus menangani Covid-19.

“Saya sudah sarankan sejak awal Maret, supaya Pemkot mempersiapkan langkah antisipasi terjadinya lonjakan pasien Covid-19. Kondisi itu benar terjadi dibulan ini, sejumlah RS di Surabaya mengalami overload pasien Covid-19 dan harus membatasi atau menjadwal pasien Covid-19 untuk mendapatkan perawatan medis,” urainya.

BACA JUGA :

Lanjut dr Akma, akibat peningkatan kasus dihulunya, maka angka positif Covid-19 meningkat. Sedang kapasitas daya tampung RS dan ruang isolasi terbatas. Akibatnya berdampak pada overload penampungan pasien Covid-19 kasus baru.

“Keterbatasan ruang perawatan dan jumlah tenaga medis akan menjadi beban yang juga meningkat. Tingkat stresing para tenaga medis menjadi tinggi. Hal ini bisa menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi terganggu. Kondisi ini dapat mempengaruhi tingginya angka kematian dan rendahnya angka kesembuhan,” beber dr Akma.

Bahayanya kata dia, dikawatirkan bisa membuat cluster baru pada tenaga medis. Hingga tgl 28 Mei 2020, angka kesembuhan berkisar 194 orang, sedangkan angka kematian sebesar 200. Angka kesebuhan lebih rendah daripada angka kematian.

“Selain faktor pelayanan kesehatan, rendahnya angka kesembuhan juga bisa disebabkan karena memang lamanya proses penyembuhan penyakit Covid-19 ini, kan baru saja test secara masif, yang positif baru ditemukan. Sedang angka kesembuhannya masih rendah karena memang rata-rata angka kesebuhan covid-19 berkisar 2-4 minggu bahkan lebih,” ujar dia.

Fakto Ini juga menyebabkan overloadnya RS rujukan, lamanya proses kesebuhan dan pasien belum bisa pulang dan tertahan di rumah sakit. “Saya yakin angka kesembuhan akan meningkat lagi, seiring dengan peningkatan pelayanan kesehatan,” harapan dr Akma.

Pemkot harus tetap fokus menyelesaikan permasalahan yang timbul untuk memutus matarantai ini. Tentunya dari hulu sampai hilir. Dari ilustrasi itu tentu kita sudah bisa melihat permasalahannya, yakni dihulu ada masyarakat yang tidak mentaati aturan PSBB. Yang menyebabkan masalah dihilir yaitu terbatasnya RS rujukan dan ruang isolasi akibat overload (butuh clusterisasi RS).

“Kebutuhan APD level 3 meningkat, butuh perhatian pada fasilitas diruang isolasi, butuh perhatian terhadap tenaga medis, butuh penambahan tenaga medis serta butuh intensif tenaga medis sebagai penyemangat mereka, jadi fokus kesana,” terangnya.

Dokter Akma merasa yakin, bahwa semua mempunyai tujuan yang sama untuk memutus mata rantai penularan covid-19 ini. Jadi kerjasama dan gotong royong saling mendukung dan saling memberikan masukan adalah hal yang paling baik pada saat ini. (JB01)

Laporan : Dr. Akmarawita Kadir., M.Kes
– Sekretaris Fraksi Partai Golakar, DPRD Kota Surabaya
– Sekretaris Komisi D, DPRD Kota Surabaya

 

Share this post

No comments

Add yours