3700 Pedagang Pasar Kapasan Nasibnya Tidak Jelas Paska Penutupan

Anggota Komisi B DPRD kota Surabaya, John Thamrun (*JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Langkah perusahaan daerah (PD) Pasar Surya menutup pasar Kapasan Dinilai kurang tepat. Pasalnya 3700 pedagang yang ada di pasar Kapasan saat ini mengeluhkan kondisi paska resmi ditutup oleh PD Pasar Surya pada Sabtu (04/04) akibat adanya kasus terkonfirmasi Kepala UPT Pasar Kapasan ET.

Informasi yang dihimpun media ini guna mendapatkan fakta pasien ET, sumber terpercaya menyebutkan, bahwa hasil tes swab pertama dinyatakan terkonfirmasi tapi belum komfrom positif Covid-19. Namun, hasil tes swab terakhir ET ternyata dinyatakan negatif Covid-19.

Kebijakan menutup pasar Kapasan dianggap kurang tepat, disampaikan anggota Komisi B DPRD kota Surabaya dari fraksi PDIP, John Thamrun, Selasa (14/04) ditemui diruangannya.

Dirinya menilai bahwa keputusan penutupan pasar Kapasan itu tanpa suatu kajian yang benar dan terkesan dipaksakan, papar John Thamrun.

“PLT Dirut PD Pasar Surya Muhiddin terburu-buru. Pasalnya dugaan terpapar infeksi virus Corona Kepala UPT Pasar Kapasan ET belum dipastikan terkomform. Namun PLT Dirut langsung mengeluarkan kebijakan untuk menutup pasar Kapasan,” terangnya.

Banyak pedagang pasar Kapasan yang mengeluh, karena penghasilan mereka juga terhenti. Harusnya PD Pasar perlu mengumpulkan data yang valid tentang pasien ET, baru konsultasikan dengan Pemkot untuk langkah selanjutnya, urai John Thamrun.

“Ini salah langkah menurut saya. Siapa yang bertanggungjawab atas kelangsungan hidup para pedagang yang jumlahnya sebanyak 3700 pedagang yang ada disana, belum lagi orang yang menggantungkan hidupnya di pasar Kapasan,” urai politisi PDIP ini.

Langkah ini yang membuat para pedagang kecewan atas keputusan yang diambil oleh PLT Dirut PD Pasar Surya, beber John Thamrun menyimpan kekecewaan yang dalam.

PLT Dirut PD Pasar Surya dianggap kurang memiliki integritas, tidak punya sensor plan yang tepat dalam mengambil suatu kebijakan. Sehingga lanjut John, kebijakan yang diambil telah membuat keresahan dan kegaduhan para pedagang di pasar Kapasan.

“Dia tidak memiliki data yang akurat, lalu mengambil kebijakan untuk menutup. Langkah penutupan harusnya dikaji lebih dahulu tidak sekedar menutup. Bagaiman dampak dari penutupan itu kedepan terhadap 3700 pedagang dan orang-orang  yang tergantung dari kehidupan pasar disana,” ungkapnya.

Buktinya hasil swab lab yang keluar terakhir ET dinyatakan negatif Covid-19, sambung John.

“Ini ironis, kalau sekarang PD Pasar Surya membuat aplikasi online pertanyaannya sudah siapkah pedagang melakukan perdagangan secara online,” tanya John.

Saat hearing kemaren saja, PD Pasar Surya tidak mempunyai akses direct dengan para pedagang, imbuhnya

“PD pasar tidak punya akses telepon yang seharusnya menjadi data basenya mereka, baru aplikasi online itu bisa dijalankan. Ini sebuah kekonyolan yang dipertontonkan pada publik,” tukas John.

Terpisah, PLT Dirut PD Pasar Surya Surabaya, Muhiddin saat dikonfirmasi media ini lewat pesan WhatsApp belum memberikan jawaban apapun. Begitu juga saat dihubungi lewat sambungan teleponnya, juga belum bisa dikonfirmasi.

Salah satu pedagang pasar Kapasan Surabaya,bapak Syihab dan ibu Nur Asizah (*)

Sementara, salah satu pedagang pasar Kapasan yang stan tokonya dilantai dasar, Syihab mengeluhkan paska penutupan pasar Kapasan lantaran tiak ada pemasukan. Mereka pada mengeluh paska penutupan pasar Kapasan, karena tidak ada lagi pemasukan yang bisa didapat, beber Syihab ada media ini.

” Sejak Wabah virus Corona kami sudah  menelan kerugian 50 hingga 70 persen dari omset. Apalagi ada penutupan, saya sama istri tidak ada penghasilan apa-apa, terus siapa yang mau bertanggung jawab kalau pasar Kapasan ditutup,” jelas Syihab.

Padahal lanjut dia, tokonya mempekerjakan 4 orang karyawan toko. Jadi karyawan sementara  dirumahkan dulu, informasinya PD Pasar mencoba menyiapkan aplikasi online. “Menurut saya alikasi online itu tidak bisa maksimal, Toko saya juga terkonteting dengan penjualan online seperti Shopee, Lazada dan Bukalapak, tapi hasinya tidak maksimal seperti dagang konvensional,” akuhnya.

Syihab menambahkan, aplikasi online itu masih program coba coba yang dilakukan PD Pasar. “Dengan penjualan online apa yang bisa diharapkan mas. Semua pedagang pasar kapasan pernah melakukan transaksi jual beli online tapi tidak seramai pasar offline mas,” paparnya.

Langkah PD Pasar Surya untuk menerapkan aplikasi online dianggap hanya buang waktu belaka. “Saya pikir langkah itu sudah kami lakukan, dan hanya buang-buang waktu saja. ya,..maklum direksi nya bukan dari pedagang, jadi ya tidak paham persoalan di pasar,” kata Syihab.

Terkait penerapan alikasi online yang akan diterapkan PD Pasar Surya, bagaimana tanggapan pedagang Pasar Kapasan. begini salah satu pedagang pasar Kapasan, Nur Asizah.

“Saya dan semua pedagang ngak pernah setuju dengan opsi pelatihan Online buat para pedagang kapasan mas. Buat apa coba-coba. Buang buang anggaran iya pasti,” tegasnya.

Menurutnya, apa tidak sebaiknya anggaran itu dialokasikan untuk pedagang selama masa penutupan guna biaya kehidupan sehari-hari. “Itu sangat membantu buat pedagang, selama ini tidak ada pemasukan sama sekali terutama para karyawan yang menggantungkan hidupnya di pasar Kapasan,” usul Asizah.

Makanya direksi pasar itu terkait kasus covid-19 selama ini tidak ada koordinasi dengan para pedagang, imbuhnya. “Saya mengganggap pengelola pasar dan Pemkot itu egois, tidak berpihak ke pedagang. Kalau semua pasar ditutup, lalu apa yang akan menggerakkan perekonomian masyarakat Surabaya. Justru ini akan menimbulkan masalah baru,” tegas Asizah.

Asizah mengatakan, pengganguran, kriminal, dan masalah sosial lainnya akan bermunculan, karena sumber penghidupan pedagang sudah ditutup, sekarang Pemkot dan PD Pasar malah lepas tangan. (JB01)

 

Share this post

No comments

Add yours