Dokter Akmarawita Kadir, Sebaiknya Pembuatan Bilik Sterilisasi Ditinjau Kembali

Sekretaris Frkasi Golkar DPRD Kota Surabaya, dr Akmarawita Kadir, M.Kes, AIFO (*JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memerangi pandemi Covid-19 di Surabaya dengan melakukan  pembuatan Bilik Sterilisasi oleh pemkot patut diapresiasi.  Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai penularan covid-19 yang akan meluas di Surabaya. Akan tetapi, menurut dokter Akamarawita Kadir, bahwa dirinya telah mencobanya sendiri di gedung DPRD Kota Surabaya yang juga tersedia Bilik strelisasi perlu dilakukan pengkajian ulang dari sisi kesehatan bagi manusia.

“Saya mendengar semua perkantoran, mall-mall di Surabaya akan diberikan bilik sterilisasi, dan pemkot surabaya malah memesan banyak alat-alat tersebut,” ujar dr Akma.

Lanjut Sekretaris Komisi D DPRD kota Surabaya ini, gedung DPRD kota Surabaya sudah terpasang, dan kelihatan memang bagus. Akan tetapi perlu pengkajian supaya pemasangan bilik itu daat optimal. “Bahkan, kemarin waktu saya masuk di pintu depan DPRD, saya sudah mecoba sekali, memang kelihatan bagus ya, tapi setelah itu tenggorkan saya rasanya jadi tidak enak,” paparnya pada jurnalberita.id, Minggu malam (29/03) saat dimintai tanggapannya.

Namun, adik kandung Adies Kadir ini menyayangkan tidak adanya pertimbangan kesehatan jika alat ini digunakan untuk manusia. Terhadap batas keamanan dan efek sampingnya, tiba-tiba sudah dibuat banyak, nggak tau siapa yang memberi masukan itu.

“Sudah banyak literatur mengenai bahan desinfeksi tidak di rekomendasikan untuk digunakan atau disemprotkan ke manusia,” kata Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kota Surabaya ini.

ilustrasi tetap dirumah oleh dr Akmarawita Kadir (dr Akma/ JB01)

Ini perlu ditinjau ulang, karena desinfeksi chamber (bilik sterilisasi) bahan cairannya untuk mensetrilkan benda-benda mati misalnya kursi, gagang pintu, tempat duduk, dinding rumah, kandang, dan lain-lain. Akan tetapi, tidak untuk disemprotkan langsung ke manusia. Karena zat-zat yang ada didalamnya dari penelitian-penelitian sebelumnya berbahaya untuk manusia.

Dikhawatirkan kata dr Akma, apabila zat campuran disinfektan pada bilik itu terhirup, ini bisa menyebabkan iritasi saluran napas, rasa tidak enak di tenggorkan sampai nyeri tenggorkan. Dan jika mengenai selaput mata, bisa menyebabkan iritiasi pada mata, jika mengenai luka bisa menyebabkan nyeri karena iritasi pada luka.

“Bahkan, penggunaan jangka panjang bisa menyebabkan kangker, karena bahannya mempunyai sifat karsinogenik,” urainya.

Dia menambahkan, tetapi untuk penyemprotan disinfektan di perkampungan, pertokoan, perkantoran, sekolah itu nggak papa, karena yang disemprot adalah benda-benda mati, bukan manusia, jadi harus diperhatikan juga teknik penyemprotannya bahkan sampai takaran yang aman bagi lingkungan manusia.

“Saya lebih menyarankan, anggaran penggunaan bilik sterilisasi ini danannya bisa dialihkan ke pos yang lain. Bisa juga dipakai dengan cara lain untuk masuk perkantoran, misalnya mengganti baju, jadi sudah membawa baju dua (pcs) dari rumah. Kalau untuk cuci tangan dan sensor suhu itu bagus, nggak ada masalah,” tukas dr Akma.

Intinya dalam menjalankan atau membuat program-progam ini harus dipikirkan dengan matang dan tidak menimbulkan permasalahan baru, imbuhnya. (JB01)

Info By : dr. Akmarawita Kadir, M.kes, AIFO
Sekretaris Komisi D, DPRD Kota Surabaya
– Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kota Surabaya

Share this post

No comments

Add yours