Wakil Ketua DPRD Surabaya, AH Thony Minta SOP Layanan RS dr Soewandhie Diperbaiki

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, A Hermas Thony dari partai Gerindra (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Terkait pelayanan yang sempat viral dan sistem prosedur administrasi pelayanan yang diberikan rumah sakit dr Soewandhei masih dirasa kurang oleh Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, A Hermas Thony saat menjadi partisipatori investigasi keluarga pasien atas nama Sugeng. Ditemukan fakta pelayanan yang kurang baik yang diterima oleh pasien yang berobat di RS dr Soewandhie.

Menurutnya, alur sistem administrasi layanan yang diberikan pada pasien itu masih kurang baik secara sistem. Untuk itu, dirinya meminta pada Dinas Kesehatan Surabaya untuk meningkatkan standart operasional prosedur (SOP) administrasi pelayanan pada pasien.

“Waktu itu saya bertindak sebagai partisipatori menjadi keluarga pasien atas nama Sugeng. Ternyata, fakta yang saya temukan saat mengantar keluarga pasien ke RS dr Soewandhie layanan yang diberikan memang jauh dari SOP yang baik dan kurang sistematis,” ungkap Thony ditemui diruang kerjanya digedung DPRD kota Surabaya, Jumat (06/03).

Politisi partai Gerindra ini memaparkan, seharusnya orang yang ditempatkan di front office itu adalah orang yang memiliki sopan santun, lemah lembut dan orang yang sabar dalam memanggil antrian pasien. Jangan sampai pemanggilan pasien dengan intonasi kurang baik. Ketika bagian front office memanggil antrian pasien, “Sayuli……,Sayuli….endi iki rek, dolen ae ayo masuk,” Thoni mencontohkan, panggilan dari bagian front office.

Wakil Ketua DPRD kota Surabaya, A Hermas Thony saat menjadi partisipatori keluarga pasien Sugeng (JB01)

Dengan pemanggilan pasien yang baik dan santun akan membuat pasien legah, sehingga  mencerminkan layanan yang baik, justru pemanggilan layanan antrian seperti itu, menunjukkan adanya sistem layanan yang terkesan intimidasi, bukan seperti sistem pelayanan yang layak dan baik yang diberikan oleh RS dr Soewandhei.

“Jika sekarang mereka beralibi untuk mengutamakan pasien dengan tingkat keparahan, hal itu tidak ditunjang dengan SOP layanan yang benar.  Maka alibi tersebut, hanya menutupi kekurangan sistem layanan yang mereka (RS dr Soewandhei, red) miliki,“ kata Thoni.

Maka dari itu, yang perlu diperhatikan Dinas Kesehatan Kota Surabaya menempatkan dokter di front office, sehingga dapat mengecek pasien yang datang serta bisa memastikan pasien dari tingkat keparahan penyakit yang dideritanya, beber dia.

Oleh karenanya, Thony meminta pada Dinas Kesehatan kota Surabaya untuk memperhatikan dan memperbaiki alur administrasi system layanyan yang diberikan pada pasien. Thony juga menekankan agar Komisi D DPRD kota Surabaya  secara inten melakukan sidak atas pemberian dan mengecek sistem alur  administrasi pelayanan yang diberikan RS dr Soewandhei Surabaya.

A Hermas Thony saat antri penebusan obat di RS dr Soewandhie Surabaya (JB01)

 

Disinggung soal pendaftaran antrian secara online bagi pasien, Thoni justru mempertanyakan sistem daftar online itu sudah berjalan efektif apa belum? “Buktinya waktu saya mengantar pasien Sugeng, jumlah pasien membludak dan tidak tertangani dengan baik. Ini yang menyebabkan menumpuknya antrian pasien yang mau berobat,” tukasnya.

Bayangkan, waktu itu pasien Sugeng datang ke RS dr Soewandhei pada pukul 21.00 WIB dan baru selesai tepat pada pukul 23.30 WIB. “Antrian yang dialami pasien Sugeng mencapai 3,5 jam baru selesai. Yang saya sesalkan dan saya lihat sendiri, ada pasien yang bisa langsung masuk ruang pemeriksaan tanpa harus menunggu antrian lebih dulu, disinyalir ada kedekatan dengan petugas,” ucap Thony. (ADV/JB01)

Share this post

No comments

Add yours