Pakar Komunikasi Politik UNAIR, Pilkada Surabaya Kemungkinan Ada Tiga Poros

Pakar Komunikasi Politik UNAIR Surabaya, Suko Widodo (*JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Pemeilihan Kepala Daerah (Pilkada) kota Surabaya, diprekdiksi bakal menjadi ajang demokrasi yang menarik. Munculnya nama-nama bakal calon Wali kota Surabaya sudah mencuat dan mendapat rekomendasi dari partai politik. Seperti manatan Kapolda Jatim, Irjen (Purn.) Polisi, Mahfud Arifin bisa dipastikan akan diusung oleh lima kekuatan partai politik yakni Gerindra (5 kursi), PKB (5 kursi), Demokrat (4 kursi), PAN (3 kursi) dan PPP (1 kursi) total dukungan untuk sang jenderal ini 18 kursi.

Jika PDI Perjuangan bersikukuh untuk mengusung kadernya sendiri maka akan muncul poros lain yakni, PKS (5 kursi), Golkar (5 kursi) dan Nasdem (3 kursi) sementara PSI (4 kursi) bakal merapat ke PDI Perjuangan dilihat dari historikal yang terjadi saat ini.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Suko Widodo menjelaskan, dinamika yang berkembang kemungkinan hal tersebut bisa saja terjadi, karena politik itu untuk merangkul kepentingan bersama. Kalau kemungkinan PDI Perjuangan akan memunculkan kadernya sendiri bisa ada tiga poros pada Pilkada nanti.

“Bisa saja kemungkinan itu terjadi. Mengingat pada 10 tahun yang lalu PDIP memang memberikan kesempatan pada kader terbaiknya. Dan itu berhasil pada dua periode Pilkada Surabaya,” terangnya, Jumat (31/01) saat dihubungi jurnalberita.id lewat sambungan selulernya.

Menurutnya, di PDIP sendiri sekarang menagalami pergeseran politik. Mereka tidak lagi berpatokan untuk mengusung kadernya sendiri. Bahkan akhir-akhir ini PDIP sebagai partai terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan prestasi untuk mereka usung.

“Nah, di Pilkada Surabaya, pemilihnya adalah masyarakat yang rasionalitas. Tidak lagi melihat kekuatan partai politik tapi lebih memilih kandidat yang memiliki prestasi yang nyata dan bisa dirasakan masyarakat manfaatnya,” paparnya.

Sosok lah yang menjadi pijakan masyarakat Surabaya dalam menentukan pemimpin mereka kedepan, sambung Suko.

Dia menambahkan, bisa jadi nanti PDIP akan mengusung non kader. Hal itu sangat mungkin, karena PDIP saat lebih terbuka bagi kandidat yang mumpuni menggantikan Tri Rismaharini.

Kalau itu terjadi ada kemungkinan tiga poros yang akan muncul, poros Machfud Arifin, poros PDI Perjuangan plus PSI dan Poros PKS, NasDem dan Golkar. “Hal ini sangat mungkin. Kalau ini terjadi maka Pilkada Surabaya akan lebih seru dibandingkan Hanya head to head dua kandidat,” kata Suko Widodo.

Artinya kalau head to head akan sangat menguras tenaga serta menguras strategi masing-masing kandidat kalau yang terjadi adalah Head to Head, sambung dia.

Namun lanjut Suko, kalau tiga poros akan lebih dinamis. Tinggal siapa yang akan dimunculkan sebagai kandidat masing-masing. “Ya karena pemilih Surabaya tidak lagi melihat kekuatan politik, tapi lebih pada melihat personal kapability,” urai dia.

Banyak yang memiliki personal kapabilitas di Surabaya, misalnya politisi PKS, Reni Astuti, Gus Han, Whisnu Sakti Buana, pak Machfud Arifin dan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, imbuhnya.

“Siapa yang bisa memberikan kerja nyata untuk masyarakat, kemungkinannya sangat besar memenangkan pertarungan Pilkada Surabaya,” tukas Suko. (JB01)

 

Share this post

No comments

Add yours