Catatan Sekretaris Pribadi, Berbicara Fakta Dua Windu Lalu Risma Menangis & Merengek Minta Dipindah Dari Kalitbang

Mantan Ka Litbang periode 2004 – 2009 yang sekarang sebagai Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini (*JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Tahun 2004 saat Arif Afandi (AA) menjadi Wawali Surabaya, saya diminta untuk jadi Sekretaris pribadinya (Spri). “Resmi lho jadi spri selama hampir setahun. Saya akhirnya dikenal dan kenal pejabat teras, termasuk Pak Fadhil waktu itu menjabat Assisten dan Sekretaris kota  (Sekkota) dijabat Pak Soekamto waktu itu,” bebernya.

Pada awal pemerintahan Bambang Dwi Hartono (BDH) – Arif Afandi (AA), kira-kira tiga bulan berjalan, akan ada penyusunan/pengisian jabatan sebagai kabinet kerjanya pasangan BDH-AA pada priode 2004-2009.

Dalam kaitan pengisian jabatan itu, AA adalah Ketua Baparjakat, sedangkan Sekkota Pak Soekamto selaku Sekretaris Baparjakat.

“Nah sebagai Spri, saya ‘melekat’ dengan AA. Bahkan, saya tinggal juga di rumah dinas Wawali di Kupang Indah 1/15, Surabaya,” ungakapnya.

Karena bakal ada pengisian jabatan kabinet BDH-AA, banyak juga pejabat yang mencoba ‘mendekat’ ke saya yang tujuannya bisa bertemu Pak AA, celotehnya.

Sebagai Spri dan orang baru di lingkungan Pemkot Surabaya masih disebut (Kota Madya Surabaya, red) “saya tidak hafal nama atau jabatan pejabat yang ada. Kecuali level Asisten, seperti Pak Fadhil, Pak Muchlas Udin,” paparnya.

Saat menjelang rapat Baparjakat di hotel Majapahit, suatu petang Satpol di rumdin lapor ke saya (spri) bahwa ada tamu Bu Risma mau menghadap Pak AA. Saya pas sedang kongkow dengan Pak AA di teras belakang rumdin. “Temuin Mas Fim dan tanya dari mana,” kata Pak AA meminta saya menemui tamu bernama Risma itu.

Begitu bertemu, tamu perempuan paruh baya bernama Risma dengan sok akrab menyambut saya, “Pak Ferry, saya Bu Risma Kepala Balitbang. Mohon disampaikan ke Bapak, saya sowan,” Pintah Risma pada Ferry.

Saya balik kanan, melapor ke Pak AA. “Onok opo yo Mas Fim ? Yo wis kongkon melbu nang kene ae,” ujar Pak AA seingat saya waktu itu.

Singkat kisah, duduklah si Risma di kursi tamu beranda tengah rumdin. Lalu, Pak AA datang dan menerima jabat tangan Risma.

Saya sebagai spri tahu diri (etika) harus meninggalkan ruangan itu. Namun, “Mas Fim disini saja,” pinta Pak AA. Duduklah saya mendampingi Pak AA dan mendengar keluhan serta curhat si Risma yang mengaku dikuyo-kuyo BDH “dibuang” dengan jabatan Kabalitbang.

Waktu mengeluh dan curhat itu Risma sambil menangis memohon ke Pak AA agar dibantu tak lagi jadi Kalitbang.

Seminggu seusai bertemu di rumdin, Risma datang ke rumah orang tua Pak AA di Gogotdeso, Kabupaten Blitar. Saat itu Pak AA mengkhitankan Nizar putranya. Pak AA tanya ke saya, “Mas Fim, kok Bu iku (Risma, red) tekok rene?” Saya jawab dengan bahasa tubuh mengangkat bahu tanda tidak tahu.

Sekitar dua minggu setelah pertemuan itu, rapat Baparjakat memutuskan beberapa jabatan kabinet BDH-AA.

Nah, si Risma akhirnya pindah dari Balitbang ke DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) sebagai kepalanya.

Sejak Risma jadi Ka DKP tak pernah menemui Pak AA apalagi dengan saya. Sampai Risma “dibesarkan” Jawa Pos dengan berita-berita keberhasilan menghijaukan kota Surabaya yang sebenarnya adalah tugas tanggungjawabnya.

Dan pada tahun 2014, saya saat bersama Walkot KWB Ma ER sedang menunggu boarding di bandara Soetta, lewatlah Risma. Yang dia salami hanya Mas ER. Saya cuma disapa Bu Yayuk. (Spri/JB01)

Sumber Warta : Ferry

Share this post

No comments

Add yours