Guru Besar ITS Inovasikan Sistem Penyerap Gempa pada Struktur Bangunan

 

Guru besar ITS,Prof Dr Ir Hidayat Soegihardjo MS , kembangan struktur bangunan bertingkat anti gempa (ERI/JB01)

JURNALBERITA-SURABAYA, Melalui riset untuk pengukuhan guru besarnya, Prof Dr Ir Hidayat Soegihardjo MS, dosen Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan temuan mengenai sistem penyerap gempa pada berbagai struktur bangunan.

Jika gempa terjadi, bangunan boleh jadi rusak, namun tidak boleh memakan korban.

Berasaskan filosofi tersebut, guru besar yang akan dikukuhkan secara resmi oleh ITS, Rabu (11/12) mendatang, tersebut menginovasikan Sistem Rangka Batang berelemen Bresing Anti Tekuk (SRBBAT).

Hidayat menjelaskan bahwa pada pembuatan struktur bangunan dikenal istilah daktilitas. Suatu struktur yang daktail berarti mampu mengalami simpangan pascaelastis akibat gempa.

“Sehingga struktur tersebut mampu mempertahankan kekuatan dan tetap berdiri walaupun berada di ambang keruntuhan,” paparnya dalam jumpa pers, Senin (9/12).

Dalam orasi ilmiahnya sebagai guru besar ke-122 ITS, pria yang telah berkecimpung dalam bidang konstruksi bangunan anti gempa sajak 2002 silam ini menyampaikan bahwa SRBBAT dapat menjadi alternatif pilihan untuk struktur bangunan bertingkat tinggi yang menggunakan struktur baja daktail yang memiliki jarak antar tiang mencapai 20 meter.

Hidayat mengklaim, SRBBAT menunjukkan kinerja yang baik dalam menyerap energi gempa. Ia menemukan bahwa gaya geser dasar seismik, rasio simpangan dan energi histeretik meningkat optimal.

“Meskipun begitu, masih perlu dilakukan kajian dan eksperimen yang lebih intensif sehingga kinerjanya dapat teruji dengan baik,” ujar pria kelahiran Madiun, 25 Maret 1955 tersebut menambahkan.

Tak hanya berfokus pada bangunan bertingkat tinggi. Berdasar asas innovations based economy (ekonomi berbasis inovasi) di Indonesia, peneliti dari Laboratorium Struktur Departemen Teknik Sipil ITS ini juga inovasikan sistem penyerap gempa bagi bangunan rumah tinggal. Yakni Low-Cost Base Isolation (low-cost BI).

“Inovasi tersebut bekerja dengan metode yang mirip dengan konsep Base Isolation. Yaitu penanaman pondasi pada struktur bangunan yang dapat meminimalisir pengaruh gempa dengan meredam gaya gempa yang bekerja.”pungkasnya. (ERI/JB01)

Share this post

No comments

Add yours