Pendidikan Agama Menjadi Fundamental Untuk Mengatasi Tawuran Anak Dibawah Umur

Wakil Ketua DPRD kota Surabaya dari fraksi PKB, Laila Mufidah (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Kota Surabaya yang menyandang sebagai kota ramah anak menjadi contoh yang baik bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, belakangan terjadi suatu peristiwa yang mengagetkan kita semua yakni tawuran antar geng.

Kejadian ini sempat menyita perhatian kita semua mulai  dari elemen  masyarakat termasuk menjadi perhatian khusus Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Tawuran yang melibatkan ribuan anak dibawah umur  yang terbagi menjadi 61 group WA itu. Perseteruan geng yang menamakan All Star dengan Geng Jawara Kampung. Kedua geng ini beranggotakan anak-anak dibawah umur bahkan ada yang masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Dan anggota nya mencapai ribuan.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRD kota Surabaya, Laila Mufidah menegaskan, permasalahan tawuran antar geng yang melibatkan sejumlah anak dibawah umur perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah maupun dari semua shareholder kota ini.

Pendidikan agama adalah hal yang penting untuk ditanamkan bagi mereka. Maksimalkan masjid yang berada di kampung-kampung di Surabaya sebagai wadah menimbah ilmu agama. “Saya rasa agama harus menjadi fundamental dari kehidupan anak-anak kita,” paparnya, Selasa (15/10)

Politisi PKB ini juga menegaskan, agar memfungsikan masjid sebagai rumah kedua. Ini juga harus mendapatkan perhatian dari para orang tua, supaya habis pulang sekolah anak-anak perlu memakmurkan masjid dengan belajar agama, ucap Laila.

Peran serta masyarakat, orang tua, pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama secara bersama-sama turut serta andil menjaga anak-anak kita di perkampungan ya masing-masing, imbuhnya.

“Kita harus bergandengan tangan menjaga agar anak-anak kita didasari agama yang kuat. Karena pendidikan agama akan membentuk Akhlakul Karimah bagi pertumbuhan anak-anak,” tegasnya.

Mereka lagi mencari jatidiri, oleh karenanya dalam pencarian jatidiri itu perlu perhatian dan pendampingan dari orang tua, lingkungan dan semua elemen masyarakat yang ada. “Saya yakin dengan memaksimalkan fungsi masjid sebagai rumah kedua, maka perkembangan metal dan akhlak anak-anak kita akan tumbuh dengan baik, tawuran pun tidak akan pernah terjadi di kota ini,” kata Laila.

Sementara, Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP5A) perlahan mulai mendata hampir semua anggota kedua geng tersebut.

Namun, Kepala DP5A Candra Oratmangun menyatakan anggota kedua geng tidak hanya berasal dari Kota Surabaya.

“Kalau (data dari) kami enggak banyak, sekitar 70-an, tapi 30-an itu luar kota, ada yang Gresik, ada yang Blitar, yang Surabaya 40-an, tetapi yang kasus Sabtu kemarin, kami belum mendapat data dari kepolisian,” ujarnya.

Saat ini, DP5A melakukan pendampingan kepada anak-anak, yang ikut dalam kedua geng tersebut.

rata-rata yang kami dampingi, kebanyakan dari keluarga menengah ke bawah, orang tua sibuk bekerja. Tetapi, kualitas untuk pendampingan orang tua ke anak, kualitas orangtua mendampingi anak agak berkurang, sehingga anak-anak ini mendapat hal (pendidikan) di luar, karena perhatian orang tua yang agak kurang,” imbuhnya.

Selain itu, DP5A tidak akan turun sendirian, karena mereka juga mendapatkan bantuan dari dinas-dinas lainnya.

“Kalau kita kerjasama, kami kan satu bendera yakni Pemkot (Surabaya) kan, ada kami, ada diknas, ada teman-teman dari kecamatan, kelurahan yang akan terus merapatkan barisan, sesudah itu memberikan pendampingan, memberikan sosialisasi juga perlu ke sekolah dan lain-lain,” ungkapnya.

DP5A juga sudah menurunkan timnya, hingga hampir seluruh pojok kampung Surabaya. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours