Publik Space Dan Keberpihakan Pada Lingkungan Perkotaan

Publik space Balai Kota Surabaya (*)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Surabaya terus membangun ruang publik yang semakin banyak. Penataan tata kota perlu dilakukan dengan kajian yang cermat, agar pembangunan yang disajikan memberikan manfaat bagi lingkungan dan peradaban manusia sekitar.

Penataan tata ruang terbuka atau yang disebut Publik Space itu bertujuan untuk keberpihakan pada lingkungan perkotaan yang sehat. Semakin banyak orang berkumpul, maka semakin banyak juga sarana transportasi yang digunakan. Inilah yang dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya untuk menyediakan ruang terbuka sebagai rasa keperpihakan dan menjadikan kota ini bersih tanpa polutan, ditegaskan Mastrie Idrawanto, pakar tata kota yang sekarang menjabat Dirut BUMD PT SKU Surabaya, Sabtu (7/9).

Dengan semakin banyaknya transportasi yang dipakai, Mastrie menyebut, akan menjadi problem perkotaan. Tidak hanya sekedar kemacetan lalulintas yang ditimbulkan, namun polusi udara dari CO2 yang dikeluarkan oleh kendaraan. Guna menanggulangi hal itu, pemerintah kota Surabaya mulai memikirkan pembangunan kota yang menyajikan lingkungan yang rama dan keberpihakan pada lingkungan, utamanya bagi kehidupan manusianya.

Oleh karenanya, kata Mastrie, Pemkot Surabaya mulai berpikir untuk menyediakan ruang terbuka serta penyediaan angkutan transportasi massal, baik berupa Trem, Bus Way maupun angkutan massal lainnya.

Maket Plan Alun-alun Suroboyo sebagai publik space kota Surabaya (*)

Saat ini yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya dengan membangun publik space sebagai sarana penyeimbang sebelum trasportasi masal dimunculkan. Misalnya, dengan melebarkan pendestrian, perbanyak taman-taman kota sebagai tempat berkumpul ataupun sebagai tempat refresing yang murah serta sebagai sarana tempat berolah raga, urai dia.

Pria yang saat ini menjadi Dirut PT SKU Surabaya itu menambahkan, dengan adanya publik space itu diharapkan adanya rasa keberpihakan antara lingkungan dengan manusia yang melakukan aktifitas. Dimungkinkan, supaya dengan pendestrian yang lebar itu banyak orang pejalan kaki yang memanfaatkan lebar trotoar tersebut. Beberapa titik sudah mulai dilakukan oleh Pemkot seperti di jalan Tunjungan dan jalan Biliton pendestrian mulai dilebarkan. Hal ini supaya pejalan kaki dapat menikmati ruang yang ada sepanjang jalan yang dilaluinya tersebut.

Ini artinya, kedepan Pemkot melihat keberpihakan dari sisi sosial dan untuk menumbuhkan perekonomian di jalan tersebut. Mau tidak mau pemerintah kota harus menyediakan teransportasi massa berkelanjutan. Dengan penyediaan transportasi massal itu, pertama dapat mengurangi tingkat kemacetan, karena orang tidak lagi menggunakan transportasi pribadi. Yang kedua pencemaran udara akan semakin terkurangi, lantaran tidak terlalu banyak kendaraan yang mengeluarkan CO2 yang berakibat polusi dan meracuni manusia sekitar.

Pemerintah Kota Surabaya terus berkomitmen melindungi dan memberi kenyaman bagi masyarakat ketika berada di ruang publik. Salah satunya dengan memasang bollard-bollard di pedestrian jalan Surabaya. Selain berfungsi melindungi para pejalan kaki, desain bollard yang menarik itu juga semakin mempercantik trotoar jalan di Kota Pahlawan, papar Mastri.

Pendestrian yang dilebarkan di jalan Tunjungan Surabaya (*)

Kasi Penyediaan Prasarana Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Prasetyo Prambayanto mengatakan, tujuan utama dipasang bollard itu supaya para pengendara roda dua (R2) tidak naik ke jalur pedestrian. Sehingga para pejalan kaki merasa nyaman dan aman saat berjalan di jalur pedestrian.

“Di pedestrian Jalan Pemuda itu kita pasang bollard desain baru model orang, desainnya juga kita sesuaikan agar bisa dilintasi penyandang disabilitas. Namun untuk sementara ini, desain baru itu masih kita jadikan pilot project,” kata Prasetyo, Jum’at (06/9).

Menurutnya, pemasangan bollard desain baru ini, selain berfugsi agar pengendara R2 tidak naik ke trotoar jalan, juga untuk mempercantik pedestrian Kota Surabaya. Bahkan, desain bollard baru yang dipasang itu memiliki beragam corak warna. Ada merah, kuning, jingga hingga orange. Namun demikian, untuk pengembangan ke depan, pihaknya mengaku akan melakukan evaluasi terkait desain baru tersebut.

“Atas arahan dari Bu Risma desain bollard yang model lama, beton besar itu kita gantikan dengan yang model baru, nanti juga kita evaluasi kekuatannya dan melihat respons tanggapan dari masyarakat,” ujarnya.

Selain memasang bollard-bollard di pedestrian jalan, Dishub Surabaya juga melebarkan tulisan rambu-rambu peringatan. Harapannya, tulisan rambu-rambu peringatan itu semakin terlihat jelas oleh para pengendara. “Bu Risma juga memberi arahan agar rambu-rambu peringatan itu tulisannya dilebarkan, supaya semakin terlihat jelas,” katanya.

Bahkan, Prasetyo menyebut, pihaknya juga berencana memasang CCTV untuk memantau para pengendara R2 maupun R4 yang naik di jalur pedestrian. Walaupun selama ini, Dishub Surabaya bersama jajaran terkait rutin melakukan patroli. Namun, saat kondisi jalanan macet terkadang masih saja ada pengendara R2 yang naik di trotoar jalan.

“Yang terpenting adalah kesadaran dari para pengendara itu sendiri,” imbuh dia.

Oleh karena itu kita juga rutin terus lakukan patroli dan memberikan teguran bagi pengendara yang naik di jalur pedestrian jalan, pungkasnya. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours