Legislator Menyayangkan Sikap Diam DPKCTR

Anggota Komisi C DPRD kota Surabaya, Vinsensius Awey (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Legislator DPRD Kota Surabaya terus mendesak Dinas Perumahan dan Pemukiman Cipta Karya Tata Ruang (DPKCTR) Kota Surabaya untuk segera menindaklanjuti polemik rusaknya rumah warga dan penurunan tanah Dharmahusada Mas imbas dari pembangunan proyek Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon (GDL)yang dikerjakan pihak PP.

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya Vinsensius menjelaskan, kami meminta agar DCKTR bertindak pro aktif dengan turun langsung ke lapangan untuk menjembatani permasalahan ini.

“Ini saya hanya melihat dinas lingkungan hidup saja yang bergerak dan sudah menemukan banyak hal,” jelasnya saat ditemui dikalangan jalan Walikota Mustajab, Selasa malam(6/08).

Menurut Awey, dari hasil penelusuran Dinas Lingkungan Hidup telah menemukan adanya permasalahan tanah dan kajian teknis yang telah sesuai dengan metodologi pembangunan apartemen di daerah itu.

Namun meskipun demikian, Awey meragukan apakah dalam pelaksanaan pembangunan GDL telah sesuai dengan kajian teknisnya.

“Persoalannya adalah, dalam pelaksanaanya sudah sesuai dengan metodenya apa belum? Nah ini tugasnya pengawasan. Siapa pengawasan? Ya Dinas Cipta Karya Dan Tata Ruang,” tegas politisi asal Partai NasDem ini.

Ia pun menyayangkan DCKTR yang memilih tidak pro aktif dalam menangani masalah ini dan cenderung menjadi bola liar akibat tidak adanya respon dari pihak DCKTR. Padahal menurutnya di berbagai media telah memberitakan permasalahan ini selama seminggu ini.

Awey khawatir jika nantinya DCKTR tak segera turun ke lapangan, kemungkinan untuk terjadi peristiwa seperti amblesnya Jalan Raya Gubeng dapat terulang.

“Maka saya meminta DCKTR segera turun untuk mengawasi apa yang ada di lapangan. Dan bila perlu kalau ditemukan adanya penyimpangan maka sesegera mungkin kegiatan pembangunan dihentikan,” pungkasnya.

Dewan pun berencana mengundang pihak PT PP. Properti, warga terdampak, DCKTR, dan berbagai pihak terkait pada Senin (12/08) mendatang untuk menemukan solusi terbaik untuk menanggapi permasalahan ini.

Diketahui sekitar 200 rumah warga mengalami kerusakan dan penurunan tanah yang diduga akibat adanya pembangunan basement 3 lantai dari proyek GDL. Daerah terdampak proyek ini diperkirakan mencapai radius 500 meter. Proyek GDL sendiri didirikan di atas lahan seluas 4,2 Hektar. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours