KRASS Berbagi Kebahagian Bersama Fakir dan Du’afa

Pemberian bingkisan pada anak-anak Du’afa dan Fakir oleh Panitia KRASS (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Para pekerja seni yang tergabung dalam komunitas Pekerja Seni Sejati (KRASS) memanfaatkan berkah ramadhan 1440 H tahun ini dengan menggelar acara buka bersama anak-anak Du’afa dan Fakir miskin di gedung serbaguna Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, Minggu (26/5).

Sedikitnya 200 anak Du’afa dan Fakir miskin diajak berbuka puas bersama dengan para pekerja seni KRASS. Sesi acara yang diawali dengan tauziah ramadhan hingga buka puasa bersama. Disesi akhir acara KRASS membagian bikisan ramadhan buat anak-anak Du’afa dan Fakir Miskin. Bingkisan yang dikumpulkan murni dari para pekerja seni ini agar mendapat barokah Allah SWT.

Wakil Ketua KRASS, bidang pembinaan artis, Imron Sadewo mengatakan, momen ramadhan tahun ini kita berbagi kebahaagian dengan berbuka puasa bersama anak-anak Du’afa dan Fakir.

Tujuannya hanya mengharapkan ridho Illahi semata-mata karena Allah SWT. Setahun kita telah bekerja untuo menafkahi keluarga kita dalam bidang seni yang kita geluti, ucap Imron.

“Momen ramadhan ini kita juga peduli dengan kaum du’afa dan fakir miskin utamanya dilingkungan terdekat kita,” tutur dia.

lanjut Imron, tidak hanya kita ngurusi pekerjaan, namun kita juga dapat berbagi dengan mereka.

Disinggung soal rencana pemerintah kota (Pemkot) Surabaya akan menutup kawasan THR, Imron mengatakan, semoga berkah ramadhan ini bisa memberikan berkah bagi kita semua utamanya Pemkot Surabaya.

“Kita tidak tahu rencana Wali Kota Surabaya ibu Risma selaku ibu kami warga Surabaya. Mau dibuat seperti apa nanti THR kedepan,” ucapnya.

Namun, harapan kami selaku pekerja seni yang ada di Surabaya, kebijakan yang diambil oleh wali kota tidak menjadikan kami selaku pekerja seni kehilangan mata pencaharian buat keluarga.

“Harapan kami semua para pekerja seni pada wali kota Risma, apapun kebijakannya benar-benar bisa melindungi pekerjaan kami yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja seni,” tegas Imron.

Ada ratusan bahkan ribuan warga Surabaya yang menghidupi keluarganya dari budaya kesenian. Oleh karenanya imbuh dia, semoga rencana pemkot untuk menutup kawasan THR bisa dipikirkan kembali.

“THR memiliki sejarah yang sangat kental bagi perkembangan kota Surabaya. Disini (THR, red) merupakan tempat atau wadah berkumpulnya para pekerja seni untuk mengeksploritasi kemampuannya dalam bidang kesenian,” ujar Imron.

Misalnya Srimulat yang tumbuh dan besar dari kawasan THR ini, dan banyak lagi para pekerja seni yang besar namanya berasal dari kawasan THR, sambung dia.

Sementara koordinator KRASSTA (Komunitas Pekerja Seni Sejati Wanita), Yanti Kumala menyampaikan, syukur alhamdulliah pada bulan ramadhan tahun ini kami para pekerja seni utamanya para wanita bisa berbagi kebagian dengan anak-anak Du’afa dan Fakir.

“Walaupun hanya dapat berbagi sedikit, ini merupakan kebahagian yang tidak ternilai bagi kami,” kata Yanti.

Kami juga berharap pada ibu Wali kota Surabaya Tri Rismaharini dapatnya melindungi warganya yang menggantungkan hidupnya dalam dunia kesenian, ujarnya.

“Kesian itu adalah aset budaya bangsa yang patut kita pertahankan dari rea globalisasi jaman,” pungkas dia. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours